Internasional

Dihukum Penjara dan Kebiri, Pembina Pramuka: Ini Terlalu Berat

Surabaya (beritajatim.com) – Rahmat Santoso Slamet (30) seorang pembina Pramuka di sebuah SMP Swasta di Surabaya tampak syock saat majelis hakim menjatuhkan hukuman 12 tahun dan juga kebiri kimia selama tiga tahun.

Saat digelandang petugas ke ruang tahanan PN Surabaya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika awak media mencoba meminta komentarnya. “Ini terlalu berat,” ucapnya.

Namun dia tak menyebut hukuman mana yang berat dia jalani. Dia hanya berkali-kali menyebut hukuman tersebut terlalu berat. Oleh majelis hakim yang diketuai Dwi Winarko menjatuhkan hukuman penjara selama 12 tahun pada Terdakwa. Selain itu hakim juga menjatuhi denda sebesar Rp 100 juta dengan subsider tiga bulan penjara.

Tak hanya itu, hakim juga menjatuhkan pidana kebiri kimia selama tiga tahun. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan JPU Sabetania yang sebelumnya menuntut pidana penjara selama 14 tahun dengan denda dan kebiri sama dengan vonis hakim.

Terdakwa melakukan perbuatannya pada pertengahan 2016 hingga 2019. Modusnya sederhana, terdakwa mengajak beberapa siswa datang ke kediamannya dengan suatu alibi memberikan binaan khusus tentang Ilmu Kepramukaan. Sedikitnya ada 15 anak dibawah umur yang menjadi korbannya. Para korban merupakan siswa binaan ekstrakulikuler dari lima SMP dan satu SD di Kota Surabaya. [uci/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar