Iklan Banner Sukun
Internasional

Dicap ‘Sudah Mati’ Selama 18 Tahun, Pria India Berjuang Tuntut Hak

Surabaya (beritajatim.com) – Kematian seseorang di India ternyata bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Hak orang yang bersangkutan pada jaminan sosial pun bisa direbut hanya dengan secarik kertas berisi keterangan sudah “meninggal”.

Hal inilah yang dialami Lal Bihari, pria yang kemudian terkenal dengan julukan ‘mayat hidup’. 18 tahun lamanya dia berjuang mendapatkan haknya yang direbut orang lain lantaran dinyatakan meninggal dunia.

Praktik ini ternyata cukup marak di India. Banyak orang menyuap pejabat daerah setempat demi mendapatkan surat keterangan kematian orang lain.

Para korban biasanya adalah orang yang sudah lama tinggal jauh dari tempat kelahirannya. Sementara pelakunya adalah kerabat mereka yang serakah.

Surat kematian itu mereka manfaatkan untuk mengklaim aset milik nama yang tertera di dalamnya. Baik berupa tanah maupun rumah keluarganya.

Lal Bihari sendiri adalah satu dari sekian banyak korban dari praktik permufakatan jahat tersebut. Mereka kehilangan aset karena ulah saudaranya yang serakah.

Dikutip dari Odditycentral.com, kesengsaraan Bihari dimulai pada 1976 ketika ia kembali ke tempat kelahirannya, Desa Khalilabad di Uttar Pradesh. Saat itu, dia perlu mengurus dokumen tempat tinggal, pendapatan dan sertifikat kasta agar bisa mendapatkan pinjaman untuk bisnis pusakanya.

Ketika petugas pertama kali melihat ke arahnya dan mengatakan kepadanya bahwa Lal Bihari sudah mati, dia tersenyum. Petugas itu tidak membalas senyumannya.

“Lal Bihari meninggal tahun lalu,” kata petugas itu padanya. “Aku tidak tahu siapa kamu.”

“Tapi aku tinggal di sini sebelum kamu,” jawab Bihari yang bingung. “Kamu tahu saya. Aku pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Petugas tidak peduli. Dia menunjukkan kepada Bihari sebuah catatan resmi menunjukkan dia telah meninggal pada tanggal 30 Juli 1975, setahun sebelumnya. Sedangkan tanah miliknya telah dikuasai sepupunya.

Meskipun terkejut dengan hal itu, Bihari yakin dia bisa segera mengatasi masalah itu. Bagaimanapun, dia adalah bukti nyata bahwa Bihari belum mati. Dia tidak tahu akan menghabiskan 18 tahun agar statusnya dipulihkan.

Bihari memulai perjuangannya dengan menghubungi seorang pengacara yang menertawakannya, mengatakan “Seorang pria mati telah datang kepada saya.” Dia kemudian mencoba mengajukan keluhan kepada pihak berwenang setempat namun respon yang didapat tidak berbeda.

Segera, penduduk setempat mulai mengejeknya dengan memanggilnya ‘mritak’ (orang mati) dan hantu. Dia merasa terhina, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.

Pada 1980, seorang politisi bernama Shyam Lal Kanojia memberi Bihari nasihat yang akan mengubah hidupnya. Daripada harus malu sebagai mritak, Kanojia menyarankan Bihari memanfaatkan julukan itu untuk mempermalukan orang-orang yang telah ‘membunuh’ dia.

“Kasusmu tidak akan ke mana-mana,” kata Kanojia. “Kamu adalah seorang mritak. Mengapa tidak secara terbuka menyebut dirimu sendiri untuk mempermalukan mereka yang melakukan ini kepadamu?”

Sejak itu, Bihari memanfaatkan julukan itu untuk memperjuangkan haknya. Lambat laun, satu per satu korban yang mengalami nasib sama dengannya bermunculan dan membutuhkan bantuan.

Bihari pernah mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah untuk membuktikan dia masih hidup. Juga untuk menuntut santunan janda untuk istrinya selama dia dinyatakan mati.

Bihari juga menculik dan menekan sepupu mudanya yang diduga telah menyuap pejabat untuk menyatakan dia mati. Pria itu kemudian mendirikan organisasi nirlaba untuk membantu korban lainnya, hingga kisahnya tersebar ke seluruh India.

Baru pada 1994, status Bihari dipulihkan setelah kedatangan pejabat baru. Tapi itu bukan akhir dari kisahnya.

Setelah melalui cobaan 18 tahun ini, pria India itu mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membantu korban lain melalui organisasinya, Mritak Sangh. Sejak itu dia telah membantu ratusan orang, meluncurkan penyelidikan terhadap puluhan pejabat korup. Kisahnya yang luar biasa dibawa ke layar perak, dalam film Kaagaz.

Meskipun Pemerintah India menggambarkan masalah ini sebagai “tidak institusional atau meluas,” Bihari percaya jumlah orang yang “meninggal” di India mencapai puluhan ribu. Dipicu keserakahan, metode perampasan aset dengan menyatakan kerabat meninggal masih sangat populer di negara Asia dan bahkan mengadu domba anak dengan orangtuanya sendiri. (adg/beq)


Apa Reaksi Anda?

Komentar