Internasional

Damaikan 3 Suku di Kongo, TNI Sempat Terkendala Bahasa

Satgas Indo RDB XXXIX-B di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Keberhasilan Yonif Para Raider 503/Mayangkara yang tergabung dalam Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO untuk mewujudkan perdamaian antara milisi tiga suku di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo bukan tanpa hambatan. Pasalnya, mereka terkendala bahasa.

Tercatat ada 425 prajurit yang berasal dari Yonif Para Raider 503/Mayangkara bergabung dalam 850 prajurit dimisi kemanusiaan di bawah Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO sejak tujuh bulan lalu. Dalam menjalankan misi perdamaian menyelesaikan konflik sosial, mereka melakukan pendekatan secara intensif dan persuasif.

Komandan Yonif Para Raider 503/Mayangkara, Mayor Inf Hadrianus Yossy SB menceritakan, bagaimana anggotanya berusaha dengan inisiatif sendiri untuk mempelajari bahasa warga setempat dengan menggunakan translate bahasa yang ada di google. Kendati terbata-bata ratusan prajuritnya terus mencoba melakukan komunikasi dengan mereka yang terlibat konflik antar suku sejak tahun 1990 an.

Dengan translet bahasa Swahili, yakni bahasa bantu yang digunakan secara luas di sub-Shara Afrika. Mereka melakukannya setiap hari untuk sebagai langkah pendekatan. Terdapat tiga kelompok adat yang bertikai untuk memperebutkan kekayaan alam yakni kelompok adatb Perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi di wilayah Area of Responsibility COB Kompi Bravo IndoRDB.

“Anggota belajar bahasa Swahili untuk melakukan pendekatan sejak awal kami tiba bulan November tahun lalu. Kita belajar bahasa mereka, sehingga komunikasi antara kami dengan warga yang berkonflik terbuka. Sehingga warga mulai tumbuh kepercayaan terhadap prajurit yang berasal dari Indonesia, namun sebelumnya komunikasi sudah terjalin,” ungkapnya, Senin (6/7/2020).

Awalnya komunikasi baik sudah terjalin sejak Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB/MONUSCO lebih dulu bertugas di sana. Dari sanalah, prajurit Indonesia dikenal ramah hingga mendapatkan julukan istimewa, yakni ‘Papa Indo’ bagi prajurit laki-laki, sedangkan ‘Mama Indo’ bagi prajurit perempuan setiap kali bertemu. Ini sebagai bentuk penghormatan warga terhadap ratusan prajurit yang bertugas di Republik Demokratik Kongo.

“Namun kita perhalus lagi pertemanan menjadi lebih bersahabat dan kawan baik. Salah satunya dengan bertandang ke rumah warga tanpa membawa senjata, walau memang standar pengamanan dalam berdialog, maupun interaksi tetap harus dilakukan sebagai antisipasi kerawanan. Hanya saja senjata harus di luar rumah warga karena kami ingin memberikan kesan ‘tanpa senjata kami bukan ancaman, karena kita bersahabat,’ ujarnya.

Setiap prajurit khusus Yonif Para Raider 503/Mayangkara ditargetkan untuk menjalin komunikasi dengan dua orang kepala kampung yang dikunjungi. Sehingga tercapailah kegiatan Civil Military Coordination (CIMIC) yang meliputi pelayanan kesehatan gratis, psycology lapangan dan perpustakaan, maupun inovasi dalam pengolahan bahan makanan, cara bercocok tanam, kegitan belajar mengajar, olahraga bersama, memberi informasi cuci tangan yang benar, hingga cara gosok gigi.

“Karena selama ini, warga di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo hanya mengkonsumsi tepung yang diolah dengan air dan garam, jagung yang berusia tua dan ubi-ubian yang hanya direbus begitu saja. Ada tiga tujuan tugas utama kami, melindungi warga sipil dari milisi-milisi yang tidak suka dengan pemerintah, melindungi aset-aset PBB termasuk personil, materil, dan terakhir membantu stabilisasi pemerintah di Kongo,” jelasnya.

Pihaknya tak bisa memungkiri naluri atau kebiasaan orang Indonesia dari hati ke hati dalam kemanusiaan untuk memberikan bantuan di luar mandat yang diberikan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Tercatat 50 persen warga beragamakan nasrani, 30 persen beragama islam dan 20 persen kepercayaan, namun prajurit berusaha menciptakan toleransi umat beragama dengan mengadakan peribadatan Natal secara bersama-sama dan diadakan sinterclas untuk pembagian hadiah.

“Saat lebaran Hari Raya Idul Fitri, kegiatan berzakat pun dilakukan dengan pengadaan beras dan kambing. Dari situlah tersentuh dan berhasil memenangkan hati dan pikiran mereka untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan stabil di Kongo. Nah, jika ada apa-apa mereka langsung melaporkan ke kami bahkan sampai saat ini jumlah kriminalitas mulai menurun setiap harinya,” tegasnya.

Sementara itu, Komandan Satgas TNI Konga XXXIX-B RDB/MONUSCO, Kolonel Inf Daniel Lumbanraja, menjelaskan, keberhasilan tim LRM merupakan bentuk pelaksanaan dari mandat PBB yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil serta kepercayaan dari ex-combatan kepada Satgas TNI Konga XXXIX-B MONUSCO yang bekerjasama dengan tokoh adat kelompok perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Napaledi wilayah Area of Responsibility COB Kompi Bravo IndoRDB.

“Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco sampai saat ini telah memasuki bulan ke tujuh dalam menjalankan tugas di Republik Demokratik Kongo dan telah berhasil mengumpulkan sebanyak 74 pucuk senjata yg terdiri dari 69 pucuk senjata api jenis AK-47, 2 pucuk jenis FAL, 3 pucuk senjata rakitan, 436 butir munisi,1 buah granat tangan, 75 busur dan 80 anak panah serta 233 orang milisi,” pungkasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar