Internasional

Corona dan Tablighi Jamaat India

Semua peserta Tablighi Jamaat di Delhi dipindahkan ke lokasi karantina.[Foto: Getty Images/BBC]

Kelompok Tablighi Jamaat menjadi sorotan setelah acara yang mereka gelar di ibu kota India, Delhi, memunculkan sejumlah klaster Covid-19 di seantero negeri. Namun, kelompok apakah ini dan mengapa mereka menyelenggarakan acara besar-besaran di Delhi? Wartawan BBC Hindi, Zubair Ahmed, melaporkan.

Siapakah Tablighi Jamaat? Organisasi ini didirikan pada 1926 di kawasan Mewat, India utara, oleh seorang ulama Islam terkemuka, Maulana Mohammed Ilyas Kandhlawi.

Tujuannya adalah menanamkan Islam “sejati” di antara umat Muslim sedunia. Kala itu, banyak umat Muslim di India merasa bahwa identitas politik dan agama mereka terancam oleh kekuasaan kolonial Inggris.

Organisasi tersebut kemudian berkembang pesat di India yang saat itu belum terbagi menjadi beberapa negara. Perkembangannya terus meningkat setelah India merdeka pada 1947, bahkan ketika Pakistan dan Bangladesh berdiri.

Apa tujuannya? Pendiri Jamaat, Mohammed Ilyas, suatu saat pernah berkata, “Oh umat Muslim jadilah Muslim yang baik”. Perkataan itu menjadi inti dari tujuan utama Tablighi Jamaat—mengedepankan ajaran Islam di antara umat Muslim.

Para anggotanya mengklaim Tablighi Jamaat adalah organisasi non-politis yang bertujuan membangun masyarakat Islam berdasarkan ajaran Quran. Organisasi tersebut mengirim delegasi-delegasinya ke berbagai negara selama 40 hari dalam setahun dan terkadang dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Para pensyiar dari organisasi itu menjalankan metode syiar agama orang-per-orang, sehingga mereka akan mendatangi rumah-rumah umat Muslim untuk menyampaikan ajaran Islam.

Apa yang terjadi di Delhi? Pertemuan di Delhi merupakan acara tahunan yang berlangsung pada 3 Maret, sedangkan kapan berakhirnya ada berbagai versi. Yang jelas, saat acara itu rampung, banyak orang—termasuk 250 warga negara asing—memilih bertahan di sana.

Ditengarai beberapa di antara mereka mengidap Covid-19, yang kemudian menular ke sesama peserta dan menyebar ke seantero India.

Salah satu anggotanya, Waseem Ahmed, mengatakan kepada BBC Hindi bahwa ratusan delegasi meninggalkan lokasi sebelum karantina wilayah alias lockdown diberlakukan pada 24 Maret. Akan tetapi, lebih dari 1.000 pengikut, termasuk sejumlah warga negara asing, terlantar karena semua moda transportasi dan penerbangan internasional dihentikan.

Pelacakan hampir 400 kasus Covid-19 berujung pada acara Tablighi Jamaat di Delhi. [Foto: Getty Images/BBC]
Sejak saat itu, kepolisian merazia hostel-hostel tempat warga negara asing menginap dan mengarantina mereka di lokasi lain di Delhi.

Pemerintah India kini berupaya melacak dan menguji orang-orang yang hadir dalam acara itu mengingat jumlah kasus Covid-19 yang terkait dengan pertemuan Tablighi Jamaat terus meningkat. Pada Kamis (2/4/2020), media setempat melaporkan kasus positif Covid-19 mencapai 389.

Apakah ada WNI yang mengikuti acara Tablighi Jamaat? Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan sebanyak 731 warga negara Indonesia (WNI) mengikuti acara Tablighi Jamaat di India. Mereka tersebar di berbagai negara bagian di India.

“Para jemaah tabligh ini memang terdampak dari kebijakan lockdown yang diterapkan oleh pemerintah India hingga 14 April,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, Judha Nugraha, dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/4/2020).

Judha menuturkan, ada 14 jemaah Tabligh Indonesia yang terinfeksi Covid-19. “Di mana 10 di antaranya sudah dinyatakan sembuh dan empat lainnya masih dalam perawatan dan kondisinya stabil,” paparnya.

Seberapa besar Tablighi Jamaat? Tablighi Jamaat kini adalah gerakan agama yang mempunyai pengikut di lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, hingga Amerika Serikat. Organisasi itu punya kantor perwakilan di setiap negara yang ada pengikutnya, namun pusat atau yang disebut Markaz berada di Delhi.

Markaz menempati sebuah gedung beberapa lantai di Nizamuddin, kawasan permukiman Muslim di Delhi. Di Markaz terdapat sebuah masjid dan asrama-asrama yang dapat menampung 5.000 orang.

Tablighi Jamaat juga menyelenggarakan acara-acara besar di luar negeri. Di Bangladesh, organisasi itu menggelar acara bertajuk Biswa Ijtema, yang digadang-gadang sebagai acara perkumpulan kedua terbesar umat Muslim sedunia setelah ibadah Haji di Arab Saudi.

Di Indonesia, pada pertengahan Maret lalu, ribuan orang berkumpul mengikuti Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Belakangan acara itu dibatalkan setelah mendapat desakan aparat. Organisasi ini juga punya beberapa pengikut ternama di Asia Selatan.

Beberapa di antaranya adalah sejumlah anggota tim nasional kriket Pakistan, termasuk Shahid Afridi dan Inzamam ul-Haq. Mantan Presiden Pakistan, Farooq Legari serta Mohammed Rafiq Tarar juga diyakini menjadi pengikut. Adapun mantan Presiden India, Dr Zakir Hussain, dikaitkan dengan gerakan ini. [BBC/air]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar