Internasional

Chirac dan Legacy yang Ternoda Korupsi

Presiden Prancis Jaques Chirac dan Kanselir Jerman Angela Merkel. [Foto: AFP/BBC]

Jacques Chirac menjadi presiden Prancis selama dua masa jabatan dan membawa negaranya menerapkan mata uang tunggal Eropa. Dia membawa Prancis dari Gaullism anti-Eropa menjadi pendukung konstitusi Uni Eropa.

Gaullist adalah prinsip dan kebijakan bekas pimpinan Prancis Charles de Gaulle yang dicirikan sikap konservatisme, nasionalisme, dan pemerintahan terpusat. Chirac menolak memberikan dukungan invasi pimpinan AS terhadap Irak, sehingga semakin memperburuk hubungannya dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Sebagaimana dilansir BBC, reputasinya di dalam negeri ternoda karena setelah meninggalkan Istana Élysée, dia dihukum karena melakukan korupsi saat menjadi wali kota Paris.

Jacques René Chirac dilahirkan pada tahun 1932, sebagai anak laki-laki manajer bank yang kemudian menjadi direktur perusahaan pesawat terbang Dassault. Dia masuk akademi elite bagi pegawai negeri Ecole Nationale d’Administration.

Saat muda, Chirac sempat terlibat dengan paham komunisme dan pasifisme. Dia pernah menjadi bagian pasukan cadangan Prancis dan terluka saat perang penjajahan Prancis di Aljazair.

Pada tahun 1960-an dia bekerja bagi Perdana Menteri Gaullist, Georges Pompidou. Dialah yang menjadikan Chirac sebagai menteri junior di tahun 1967. Tahun 1974, Gaullist mengalami titik balik. Chirac memimpin perlawanan terhadap calon resmi Gaullist, Jacques Chaban-Delmas, dan mendukung Valéry Giscard d’Estaing sebagai presiden.

Presiden d’Estaing kemudian mengangkatnya menjadi perdana menteri. Dua tahun kemudian keduanya berbeda pendapat. Salah satu penyebabnya adalah karena Chirac ingin lebih berkuasa. Dia kemudian mengundurkan diri dan membentuk partai neo-Gaullist terpisah, RPR.

Tahun 1977, Chirac terpilih sebagai wali kota Paris, jabatan yang dipegangnya selama 18 tahun. Tetapi masa jabatannya diwarnai berbagai skandal keuangan dan politik yang merusak nama baiknya.

Presiden Sosialis, François Mitterrand menjadikannya perdana menteri pada tahun 1986. Hubungan keduanya diwarnai perbedaan terkait dengan pandangan Chirac bahwa presiden mencampuri jabatannya.

Chirac tersudut ketika unjuk rasa mahasiswa memaksanya menghentikan rencana perubahan sistem universitas. Dia juga dikecam terkait dengan pembebasan sandera Prancis di Lebanon pada tahun 1988.

Chirac kemudian mengundurkan diri dari kabinet pada tahun 1988. Perubahan sikap Prancis terkait pajak, swastanisasi, dan peran negara membuat Chirac meyakini sekarang gilirannya untuk berkuasa. Dia memenangkan pemilihan presiden tahun 1995, dengan menjanjikan pemotongan pajak dan menyembuhkan kesenjangan masyarakat.

Chirac akhirnya tinggal di Istana Elysée Palace, mengakhiri 14 tahun ketidaksukaan terhadap kelompok kanan. Presiden Chirac lebih membuka diri dengan mengizinkan para pejalan kali menggunakan trotoar di depan istana dan warga Prancis dapat langsung mengirim email ke dirinya.

Tetapi Chirac melanjutkan tes nuklir Prancis di Pasifik Selatan sehingga dirinya didemonstrasi. Dia juga menindak kelompok pembela lingkungan seperti Greenpeace.

Chirac melanjutkan kerja sama erat dengan Jerman, dan secara terbuka mengatakan persatuan Eropa bergantung pada kepemimpinan Prancis-Jerman. Dia diserang karena membiarkan tingkat suku bunga Prancis tinggi untuk mengalahkan Deutschmark.

Di dalam negeri, tingginya pengangguran dan meningkatnya ketegangan ras dan kelas membuat masyarakat semakin tidak mempercayai politik dan politikus. Kelompok kanan jauh, National Front, yang dipimpin Jean-Marie Le Pen sempat mengguncang politik Prancis pada pemilihan presiden tahun 2002.

Le Pen kalah tetapi negara itu semakin mempertanyakan demokrasi. Reputasi Chirac membaik untuk sementara karena ketegasan posisinya terkait perang Irak.

Penolakannya atas keterlibatan Prancis membuat marah banyak pihak di AS dan menimbulkan masalah dengan Tony Blair. Tetapi mimpinya menjadikan Eropa di bawah pimpinan Prancis dan Jerman hancur karena perluasan EU membawa anggota baru yang mengubah keseimbangan kekuasaan.

Hubungan Prancis-Inggris semakin menegang terutama karena Inggris terus melanjutkan potongan anggaran Eropa. Penolakan tegas masyarakat Prancis terhadap usulan konstitusi EU pada bulan Mei 2005 merupakan sebuah pukulan telak.

Presiden muncul di televisi dan mengatakan: “Marilah kita tidak membohongi diri. Keputusan Prancis menyulitkan usaha melindungi kepentingan kita di Eropa. Kita harus bersatu demi kepentingan nasional,” katanya.

Kegagalan Paris pada tahun 2005 menjadi tuan rumah Olimpiade 2012 mewakili hilangnya kepercayaan terhadap pemerintahan Chirac. Masa jabatan keduanya sebagai presiden berakhir pada tahun 2007 dan empat tahun kemudian mantan presiden yang sakit-sakitan itu dihukum karena terbukti korupsi saat menjadi wali kota Paris.

Seorang nasionalis Gaullist, Chirac adalah seorang pria dengan kemampuan berpolitik tinggi, yang membawa kharisma dan pesona pribadinya. Pengkritik memandangnya sebagai seseorang yang tidak konsisten, tetapi setelah berkarir selama 40 tahun, iklim politik sudah berubah dan keterampilannya sudah berkurang.

Meskipun demikian Jacques Chirac adalah politikus yang tetap dapat bertahan dan meskipun kekuasaannya berakhir pada tahun 2007, dia masih tetap merupakan seseorang dengan karier politik terlama di Eropa. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar