Internasional

China Catat Tak Ada Kasus Baru Covid-19

Pengujian terhadap penduduk Kota Wuhan dilakukan di berbagai tempat. Tes itu rencananya dilakon terhadap 11 juta orang dalam 10 hari. [Foto: Reuters/BBC]

Surabaya (beritajatim.com) -Untuk pertama kalinya sejak wabah virus corona dimulai pada Desember 2019 lalu, China mencatat tidak ada kasus baru virus corona di daratan utama negara tersebut pada Sabtu (23/5/2020).

Komisi Kesehatan Nasional juga melaporkan tidak ada kasus kematian terkait Covid-19 yang terjadi selama 24 jam terakhir. Sejak kasus pertama muncul di Kota Wuhan, lebih dari lima juta orang telah tertular di seluruh dunia dan 338.000 jiwa meninggal dunia.

China sendiri mencatat lebih dari 84.000 kasus dan 4.600 orang meninggal dunia.

Klaim pemerintah China dikemukakan setelah pihak berwenang di Kota Wuhan, China, menyatakan telah menguji jutaan orang untuk mencari keberadaan virus corona sebagai bagian dari upaya pengawasan terhadap wabah Covid-19.

Langkah ini muncul setelah Wuhan melaporkan enam kasus baru pada awal Mei, padahal kota itu tidak mengalami infeksi baru sejak 3 April.

Klaster kasus-kasus baru dilaporkan muncul di kawasan permukiman yang diduga berkaitan dengan seorang pria berusia 89 tahun yang sakit pada Maret lalu.

Dokumen yang beredar menyebut rencana pengetesan massal itu sebagai “pertempuran selama 10 hari”. Disebutkan penduduk usia lanjut dan perkampungan padat harus didahulukan dalam pengetesan ini.

Namun sejumlah pejabat yang dikutip surat kabar Global Times mengisyaratkan bahwa pengetesan skala besar di seluruh kota akan memakan biaya besar dan tidak mungkin dilakukan.

Kasus baru di Wuhan itu masuk dalam data pemerintah China yang menyebutkan ada 17 kasus baru Covid-19 pada 11 Mei, menandai kenaikan harian tertinggi sejak 28 April lalu.

Padahal, pekan lalu, kantor berita Xinhua melaporkan tidak terdapat kasus positif Covid-19 di seluruh Provinsi Hubei, termasuk ibu kotanya, Wuhan, selama 32 hari.

Atas dasar itu, berbagai sekolah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali beraktivitas, walau terbatas untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal menghadapi ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Keberadaan kasus-kasus baru, seperti dilaporkan kantor berita AFP, memunculkan kekhawatiran adanya gelombang baru penyebaran virus di Kota Shulan di Provinsi Jilin.

Sebanyak 11 kasus baru muncul di Shulan sehingga pemerintah China memutuskan untuk memberlakukan karantina wilayah atau lockdown di kota itu.

Sejumlah negara, seperti AS, sebelumnya mempertanyakan validitas data yang dibuka pemerintah China. AS juga menuding bahwa virus corona berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, China, meski intelijen AS sebelumnya menegaskan virus itu bukanlah buatan manusia.

Semenjak kebijakan lockdown dilonggarkan, sekitar 85 juta warga China berbondong-bondong pergi ke lokasi-lokasi wisata utama di negara itu dalam tiga hari pertama liburan Hari Buruh (May Day), yang berlangsung lima hari, dimulai Jumat (1/5/2020) lalu.

Dilansir dari kantor berita Reuters, lonjakan pariwisata itu didominasi peningkatan jumlah pelancong dari Wuhan, Beijing, Dalian, Tianjin, dan Jinan, menyusul aturan karantina wilayah yang dilonggarkan karena menurunnya angka Covid-19 di China.

Ratusan tempat wisata juga telah dibuka kembali, termasuk di Kota Terlarang di Beijing.

Berbagai sekolah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, kembali beraktivitas, Rabu (6/5). Aktivitas itu berlangsung setelah kota yang disebut sebagai tempat asal-muasal virus corona itu mengklaim bebas kasus Covid-19 selama 32 hari terakhir.

Meski begitu, aktivitas sekolah-sekolah tersebut dikhususkan untuk siswa kelas 9 dan 12 yang bakal menghadapi ujian akhir jelang musim panas mendatang.

Bagi pelajar kelas 12, ujian akhir itu akan menentukan universitas yang bisa masuki pada jenjang perguruan tinggi.

Merujuk laporan kantor berita Xinhua, total pelajar yang kembali bersekolah di Wuhan mencapai 57.000 orang.

Di luar Wuhan, mayoritas pelajar kelas 12 lebih dulu kembali ke sekolah sejak awal Maret lalu. Di seluruh Provinsi Hubei, setiap pelajar wajib menjalani tes virus corona sebelum diizinkan mengikuti aktivitas belajar-mengajar.

Sementara pihak sekolah diwajibkan menjalankan protokol kesehatan seperti jaga jarak di kelas dan kantin. Belakangan, pemerintah China mengendorkan berbagai pembatasan sosial untuk mengembalikan situasi ke kondisi normal.

Di Korea Selatan, kekhawatiran akan gelombang kedua telah mendorong pembatasan baru, setelah serangkaian transmisi baru terkait dengan distrik kehidupan malam Seoul. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar