Internasional

Balochistan, Kawasan Incaran China di Pakistan

Situasi Kota Balochistan dan warga setempat yang beraktifitas. [Foto: Getty Images/BBC]

Pakistan – Ada satu kawasan di negara Pakistan yang menjadi incaran China. Tentu saja karena kawasan tersebut memiliki kandungan sumber daya alam berlimpah.

Balochistan, kawasan kaya dan terlupakan di Pakistan. Kawasan ini diduga memiliki kekayaan besar berupa cadangan emas, tembaga, dan gas.  Bahkan, cadangan gas di Balochistan diperkirakan yang terbesar di Asia.

Secara sosial ekonomi, Balochistan menjadi wilayah terpencil, kurang terurus dan sebagian penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.  Balochistan daerah terbelakang di Pakistan.  Wilayah ini berbatasan dengan Afghanistan dan Iran di sisi barat negara  Pakistan.

Beberapa tahun lalu, Pakistan melakukan uji coba senjata nuklir di Balochistan. Hasil uji coba tersebut menempatkan Pakistan sebagai negara nuklir di Asia dan berhak menyandang sebutan kekuatan nuklir dunia.

Secara politik domestik Pakistan, di Balochistan terdapat beberapa kelompok perlawanan terhadap rezim politik yang berkuasa di Islamabad, ibu kota Pakistan. Dan konflik antara tentara Islamabad dengan kelompok bersenjata di Balochistan telah mengakibatkan ribuan warga sipil dan kekuatan bersenjata kedua belah pihak berguguran.

Sebagaimana dilansir BBC,  di Balochistan ada juga kelompok Taliban Pakistan, kelompok ekstrem berhaluan Sunni Lashkar-e-Jhangvi, dan Tentara Pembebasan Balochitan (BLA). LA mengaku empat anggota mereka melakukan serangan di Bursa Efek Karachi Juni lalu menewaskan dua petugas keamanan dan melukai tujuh orang lainnya, sebelum tewas ditembak.

Tahun lalu, kelompok ini menyerang Hotel Zaver Pearl-Continental di kota Gwadar, di Balochistan selatan, dengan sasaran investor China dan negara-negara lain yang biasanya menginap di hotel tersebut. LA menganggap kompleks hotel sebagai pusat proyek-proyek China bernilai miliaran dolar.

Kelompok militan menentang dengan keras investasi China dengan alasan investasi ini tidak membawa manfaat kepada warga lokal.

Mengapa Balochistan menjadi titik strategis bagi China? Hotel Zaver Pearl-Continental, yang diserang pada 11 Mei 2019, berada di puncak bukit. Dari hotel bisa dilihat pelabuhan Gwadar. Di pelabuhan yang terletak di Laut Arab ini, China tengah membangun dermaga, sebagai bagian Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC), megaproyek yang diumumkan pada April 2015.

Investasi yang ditanam China telah mencapai USD 62 miliar (sekitar Rp 871 triliun), dengan tujuan membangun jaringan jalan, rel kereta, jaringan pipa gas, yang menghubungkan kedua negara. Koridor ekonomi berawal dari Kawasan Otonomi Xinjiang di China barat laut dan berakhir di pelabuhan Gwadar di Balochistan, di Pakistan barat laut, mencakup jarak sekitar 3.000 kilometer.

Proyek-proyek ini akan memberi China akses langsung ke Samudra Hindia. Ketertarikan China terhadap Balochistan sebenarnya bukan hal yang baru. Beijing tertarik menggarap kawasan ini bahkan sejak sebelum Perang Dingin.

Saqlain Imam, wartawan BBC Urdu, menjelaskan sudah sejak lama China menaruh perhatian di perbatasan barat mereka, demi mendapatkan akses ke Eropa, negara-negara di Asia Tengah dan Iran. “Ini bukan sesuatu yang baru. China ingin ‘menggarap’ perbatasan barat karena alasan komersial dan alasan strategis lain,” ujar Imam.

Ia menambahkan, Amerika Serikat sudah sejak lama menempatkan armada Angkatan Laut di perairan di China tenggara dan secara hipotetis bisa memblokir perdagangan di kawasan dengan menutup akses ke Selat Malaka, rute perdagangan yang sangat penting bagi China.

Pakistan secara historis pernah menjadi sekutu China. Dalam konteks ini, China tak bisa menggantungkan diri pada negara-negara di perbatasan timur mereka seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Jika China ingin mendapatkan akses ke Laut, maka Balochistan bisa menjadi pilihan.

Namun proyek-proyek di koridor tak semata-mata menguntungkan China. “Pakistan memiliki sistem kereta yang memadai. Negara ini juga kekurangan sekolah, rumah sakit dan pusat kesehatan. Selama 40 tahun terakhir, investasi infrastruktur bisa dikatakan rendah,” kata Imam.

“Pakistan hanya punya satu pelabuhan besar, yaitu di Karachi, yang dibangun di masa kolonial lebih dari 100 tahun lalu,” imbuhnya.

Di tengah keterbatasan dana, proyek-proyek CPEC tentu akan sangat menguntungkan bagi pemerintah Pakistan. Namun, investasi China juga menimbulkan ketegangan.  Banyak yang menolak, baik karena alasan ekonomi maupun ideologi.

“Beberapa pihak di Balochistan menolak investasi China karena mereka pada dasarnya menentang semua kebijakan pemerintah Pakistan. Mereka ingin menjadi negara tersendiri,” kata Imam.

“Kelompok-kelompok lain merasa suara mereka tak diperhatikan,” kata Imam. Mereka merasa pemerintah federal dikuasai oleh Punjab, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Pakistan, namun dari sisi luas wilayah, masih kalah dari Balochistan.

“Kelompok-kelompok ini merasa warga di Balochistan tak punya suara dalam menentukan proyek-proyek besar [di Balochistan],” jelas Imam. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar