Internasional

AS Dukung Pemimpin Oposisi Jadi Presiden Venezuela

Caracas (beritajatim.com) – Presiden AS Donald Trump mengatakan dia mengakui pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, sebagai presiden sementara negara tersebut.

Pernyataan Trump ini muncul beberapa menit setelah politikus berusia 35 tahun itu menyatakan dirinya sebagai pemimpin sementara Venezuela di Caracas, pada Rabu.

Puluhan ribu rakyat Venezuela turun ke jalan sebagai protes terhadap Presiden Nicolás Maduro yang dilantik untuk masa jabatan kedua awal bulan ini, melalui pemilu yang dianggap penuh kebohongan oleh kalangan dunia internasional.

Menanggapi pengakuan Trump terhadap pemimpin oposisi, Maduro kemudian memberi waktu 72 jam kepada semua staf diplomat AS di Venezuela agar meninggalkan negara itu.

Perekomian Venezuela mengalami kejatuhan selama beberapa tahun di bawah kepemimpinannya. Hiperinflasi terus mengguncang ekonomi Venezuela sehingga mata uang Bolivar sama sekali tak berharga.

Dan masyarakat negara itu kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari, utamanya makanan, sehingga memaksa jutaan orang meninggalkan negeri itu.

Apa yang terjadi belakangan?
Dalam sebuah pidato di Caracas, Guaido mengatakan di hadapan banyak orang yang bersorak-sorak, mengatakan aksi protes akan berlanjut “sampai Venezuela menjadi bebas”.

“Saya bersumpah untuk secara resmi menyatakan sebagai sebagai penjabat presiden,” tegasnya, seraya mengangkat tangan kanan.

Rekaman video unjuk rasa pada Rabu memperlihatkan para demonstran berhadapan dengan pasukan keamanan Garda Nasional, yang menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi yang diwarnai pembakaraan kendaraan.

Guaido, yang juga pemimpin Majelis Nasional negara itu, telah meminta angkatan bersenjata – yang sejauh ini mendukung Maduro – agar melakukan pembangkangan terhadap pemerintah.

Di hadapan massa, Guaido berjanji untuk memimpin pemerintahan transisi dan menggelar pemilihan umum yang bebas. Namun aksi yang dihimpun kelompok oposisi ini, ditandingi aksi demonstrasi oleh massa pendukung Maduro.

Sebelumnya pada Rabu, sekelompok aktivis mengatakan setidaknya empat orang, termasuk anak ramaja berusia 16 tahun, tewas selama aksi protes.

Pernyataan Presiden Trump
Dalam sebuah pernyataan, Trump menggambarkan kepemimpinan Maduro “tidak sah” dan mengatakan majelis nasional negara itu, yang dipimpin Guaido, merupakan satu-satunya “simbol pemerintahan yang sah”.

“Rakyat Venezuela telah berani berbicara menentang Maduro dan rezimnya dan menuntut kebebasan serta penegakan aturan hukum,” katanya.

Dalam pernyataannya, Trump juga mengatakan bahwa AS menganggap rezim Maduro “bertanggung jawab langsung” atas segala ancaman terhadap keselamatan rakyat Venezuela.

Dia juga mendesak agar negara-negara lain agar mengikuti langkahnya. Sejauh ini, lima negara Amerika Selatan telah melakukannya, walaupun Meksiko mendukung Maduro.

Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), organisasi yang menghimpun negara-negara di kawasan benua Amerika utara, selatan, serta tengah, di mana Venezuela tidak berpartisipasi di dalamnya, juga telah mengakui Guaido sebagai pemimpin.

“Selamat kami kepada @jguaido sebagai penjabat Presiden #Venezuela. Kami semua mengakui kepemimpinan Anda untuk menegakkan kembali nilai-nilai demokrasi di negara itu,” kata Sekretaris Jenderal Luis Almagro dalam cuitannya di akun twitternya.

Venezuela menarik diri dari organisasi itu, yang bertujuan untuk membantu kerja sama lintas benua, pada 2017, dan menuduh mereka mencampuri urusan dalam negerinya.

Tentang Juan Guaido
Guaido adalah sosok yang relatif tidak dikenal sampai dia terpilih menjadi ketua parlemen yang dikuasai kelompok oposisi Venezuela awal bulan ini.

Setelah mengambil peran itu, dia segera menantang pemerintahan Maduro dan mengatakan dia memiliki hak konstitusional untuk memangku jabatan presiden sampai pemilihan presiden yang baru digelar.

Dia aktif secara politik sejak menjadi mahasiswa di Caracas, dan dia yang memimpin protes terhadap mendiang pemimpin sosialis Hugo Chavez, sosok yang memilih Maduro sebagai penggantinya.

Guaido, seorang insinyur perindustri dengan perdagangan, dilaporkan sempat ditawari pekerjaan di Meksiko setelah lulus kuliah. Namun dia memutuskan tetap bertahan di Venezuela untuk melibatkan diri dalam upaya perubahan politik di negeri itu.

Penunjukannya sebagai pemimpin Majelis Nasional telah memperkokoh kekuatan koposisi Venezuela, yang mengalami perpecahan dalam beberapa tahun terakhir.

Penyebab rakyat protes
Maduro, yang mulai menduduki kursi presiden pada 2013 setelah kematian Hugo Chavez, dikecam dari dalam dan luar negeri karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia serta ketidakmampuannya mengatasi masalah ekonomi.

Ada banyak laporan tentang kelangkaaan kebutuhan seperti obat-obatan dan makanan di seluruh Venezuela dan diperkirakan tiga juta orang telah meninggalkan negara itu.

Terpilihnya kembali Maduro pada Mei 2018 dipertanyakan legitimasinya oleh sejumlah kalangan di dalam dan luar negeri – yaitu karena penolakan kelompok oposisi selama pemilu dan laporan adanya kecurangan suara.

Unjuk rasa pada Rabu digelar hanya dua hari setelah dua lusinan anggota tentara Garda Nasional dilaporkan memberontak terhadap pemerintahan Maduro di sebuah pos penjagaan di ibukota Caracas. [bbc]

Apa Reaksi Anda?

Komentar