Internasional

Dampak Virus Corona

AS Batasi Jurnalis dari Tiongkok, Tiongkok Balas Usir Wartawan Amerika

Foto: Ilustrasi Bendera Amerika dan Tiongkok

Washington – Sedikitnya 13 jurnalis Amerika menghadapi kemungkinan diusir dari China sebagai pembalasan atas pembatasan baru yang diberlakukan pemerintahan Trump terkait visa bagi wartawan media pemerintah China yang beroperasi di AS.

Pemerintah China mengumumkan Rabu (18/3), warga Amerika yang bekerja untuk tiga suratkabar besar AS harus menyerahkan kartu pers mereka dalam waktu 10 hari. Mereka semua akan terpaksa meninggalkan China karena visa mereka terkait dengan izin kerja sebagai wartawan di negara itu.

Jumlah jurnalis yang terdampak ketentuan baru di tiga surat kabar, The New York Times, The Wall Street Journal dan The Washington Post, sedikitnya 13 orang.

Namun menurut Asosiasi Koresponden Asing di China (FCCC), jumlah itu kemungkinan bisa lebih besar tergantung bagaimana definisi pekerja pers yang dimaksud pemerintah China.

Jika mereka semua diusir, ini merupakan peristiwa pengusiran jurnalis asing terbesar dari China. Sejak 2003, menurut FCCC, China tercatat telah mengusir sembilan jurnalis asing.

Amerika Serikat mengumumkan sebelumnya bulan ini akan membatasi jumlah visa yang diberikan pada lima media pemerintah China yang beroperasi di AS. Amerika hanya akan memberi 100 visa. Mengingat jumlah jurnalis China yang saat berada di AS jauh lebih besar dari itu, sekitar 60 jurnalis China akan terpaksa hengkang.

Kementerian Luar Negeri China mengumumkan, warga Amerika yang bekerja untuk ketiga surat kabar itu, yang masa berlaku kartu persnya berakhir tahun ini harus menyerahkan kartu tersebut dalam waktu 10 hari. Mereka juga dilarang bekerja sebagai wartawan di Hong Kong dan Macau, dua wilayah semi otonom China.

Balasan Tiongkok

Sementara itu media di China melaporklan langkah Beijing tidak datang secara tiba-tiba terkait pengusiran wartawan Amerika karena  dipaksa untuk mengambil sikap atas diskriminasi AS dan perlindungan hak-hak media China yang meliput di negeri paman Sam ini.

Sejak 2018, lebih dari 30 jurnalis Tiongkok memiliki visa mereka tertunda tanpa batas atau bahkan ditolak oleh pihak AS. Sembilan orang telah dikeluarkan secara efektif melalui perpanjangan visa.

Pada bulan Februari, Pemerintah Donald Trump menunjuk lima entitas media China di sana sebagai “misi asing” dan kemudian pada bulan Maret memberlakukan batasan pada jumlah karyawan mereka, yang pada dasarnya mengusir lusinan wartawan Cina dari negara itu.

Menanggapi pembatasan terhadap media asal China, Beijing membalas dengan langkah-langkah kepada  lima cabang media AS yang berbasis di China, yaitu, Voice of America, New York Times, Wall Street Journal, Washington Post, dan Time untuk mendata dalam bentuk informasi tertulis tentang staf mereka, keuangan, operasi dan real estat di Cina.

Beijing melihat tindakan tersebut secara harfiah diartikan sebagai pengusiran, China menuntut agar jurnalis kewarganegaraan AS yang bekerja dengan New York Times, Wall Street Journal dan Washington Post yang kartu persnya akan berakhir tidak akan diperpanjang oleh pemerintah China.

Beijing sebenarnya ingin perlakuan yang adil terhadap kantor media Cina dan staf mereka di Amerika Serikat diperlakukan  baik oleh Pemerintah Trump.

Selama beberapa dekade, jurnalis China di Amerika Serikat telah sepenuhnya mematuhi hukum dan peraturan AS, serta kode etik profesional. Mereka tidak hanya membawa cerita tentang Cina ke Amerika tetapi juga memperkenalkan apa yang terjadi di Amerika Serikat kepada publik Tiongkok. Mereka telah memainkan peran yang sangat penting dalam pertukaran budaya Tiongkok-AS.

Meningkatnya tekanan yang diberikan Washington pada media Cina sejak 2018 bertentangan dengan “kebebasan pers” yang didukungnya. Ini tidak ada hubungannya dengan kesalahan organisasi media China tetapi penindasan politik dan intimidasi terkait erat dengan strategi Washington berdasarkan pemikiran Perang Dingin dan bias ideologis.

Amerika Serikat secara bertahap meningkatkan penahanannya terhadap Tiongkok dalam bidang politik, ekonomi dan ilmiah sejak menyebut Cina sebagai pesaing strategis dalam Strategi Keamanan Nasional pada 2017.

Namun, penindasan semacam itu tidak akan membuat Amerika Serikat lebih kuat. Seperti yang dikatakan David Gosset, pendiri Forum Eropa-Cina, itu hanya mengungkapkan kelemahan Washington. Dia menambahkan, semakin jelas bahwa Sinophobia pada abad ke-21 adalah manifestasi dari rasa tidak aman Barat sendiri.

Beberapa orang mengklaim bahwa pembatasan AS terhadap lima media Cina adalah tanggapan terhadap “tekanan” jangka panjang China terhadap media asing.

Padahal Tiongkok selalu menyambut media asing untuk meliput Tiongkok secara komprehensif dan objektif, memberikan dukungan dan kemudahan bagi ratusan jurnalis asing ketika mereka melaporkan dari Tiongkok sesuai dengan hukum.

Tindakan balasan Cina tidak bertujuan menciptakan masalah lebih lanjut. Ini untuk mengingatkan AS untuk memperbaiki tindakan yang tidak patut yang menyebabkan ketidakpastian baru, yang merupakan hal terakhir yang diperlukan untuk hubungan Tiongkok-AS yang sudah panas. (Voa/CGTN/berbagai sumber)

Apa Reaksi Anda?

Komentar