Internasional

Arab Saudi Diterjang Corona dan Anjloknya Harga Minyak

Donald Trump dan Muhammad Bin Salman pada pertengahan tahun lalu. [Foto: Reuters/BBC]

Arab Saudi dulu terkenal sebagai negara bebas pajak, tapi kini negara kerajaan itu menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 5% ke 15% dan tidak lagi membayarkan subsidi bulanan biaya hidup mulai Juni 2020.

Keputusan ini diambil setelah harga minyak dunia anjlok hampir 50% dibanding harga tahun lalu, yang mengurangi pendapatan pemerintah Arab Saudi sampai 22% dan memaksanya menunda beberapa proyek besar.

Laba bersih Saudi Aramco, perusahaan minyak milik pemerintah, jatuh 25% pada kuartal pertama tahun ini, terutama karena jatuhnya harga minyak mentah.

“Keputusan ini mencerminkan perlunya Arab Saudi mengurangi pengeluaran dan mencoba menstabilkan harga minyak yang sekarang lemah,” kata analis negara-negara Teluk Arab, Michael Stephens. “Ekonomi Arab Saudi sekarang buruk dan mereka butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali ke normal.”

Covid-19 merusak ekonomi Arab Saudi, yang sebagian besar bergantung pada jutaan pekerja migran dengan keahlian rendah dari negara Asia lainnya, dan banyak di antara mereka tinggal di lingkungan padat penduduk yang tidak bersih.

Sementara itu, Putra Mahkota Arab, Muhammad bin Salman (MBS), meski masih populer di dalam negeri, kini menjadi momok di Barat yang tetap menduga ia berperan dalam pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Kepercayaan investor internasional belum sepenuhnya pulih setelah Khashoggi dibunuh dan dimutilasi orang suruhan pemerintah di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2018.

Perang di negara tetangga Yaman, yang telah berlangsung selama lebih dari lima tahun, juga turut menipiskan cadangan uang pemerintah meskipun belum diketahui apa keuntungan memenangkan perang tersebut bagi Arab. Arab juga masih berseteru dengan Qatar, dan itu merenggangkan persatuan Dewan Kooperasi Negara-Negara Teluk Arab (GCC) yang terdiri dari enam negara.

Jadi, seberapa parah krisis di Arab Saudi? Pandemi virus corona telah merusak ekonomi semua negara di dunia, tak terkecuali Arab Saudi. Arab Saudi juga punya dana kemakmuran pemerintah bernama Dana Investasi Publik (PIF), yang nilainya diperkirakan mencapai US$320 miliar. Ia juga masih memiliki Saudi Aramco, perusahaan minyak yang mayoritas sahamnya dimiliki negara, yang nilainya tahun lalu dipatok sebesar $1,7 triliun–setara nilai gabungan Google dan Amazon saat itu.

Arab Saudi telah menjual saham di Aramco dengan jumlah sangat kecil, 1,5%, dan sukses meraup lebih dari $25 miliar, penawaran saham perdana terbesar dalam sejarah.

“Arab Saudi punya banyak dukungan untuk ekonominya,” kata Sir William Patey, mantan duta besar Inggris untuk Arab Saudi tahun 2007-2010.

“Mereka punya banyak cadangan uang untuk bertahan dan mereka masih bisa keluar dari anjloknya harga minyak kali ini tanpa kehilangan pangsa pasar minyak mereka, bahkan mungkin bertambah.”

Ancaman untuk Arab Saudi biasanya datang dari Iran, yang, setidaknya untuk sekarang, telah berkurang menyusul serangan rudal di kilang-kilang minyaknya September lalu dan pembunuhan komandan Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat pada Januari lalu.

Bulan ini, Pentagon telah memulangkan baterai rudal Patriot yang dikirim ke Arab Saudi sebagai alat pertahanan darurat. Ancaman teroris dalam negeri yang laten berasal dari jihadis yang terkoneksi dengan kelompok Islamic State (IS) dan al-Qaeda, dan ini telah berkurang drastis, meski belum sepenuhnya hilang.

Meski demikian, ada beberapa tantangan serius untuk Arab Saudi seperti: di bidang ekonomi, di mana pengumuman pengetatan pengeluaran minggu ini mungkin tidak menyenangkan bagi banyak warga Arab Saudi, yang sebenarnya menanti masa depan yang lebih cerah di bawah rencana ambisius pemerintah untuk mendiversifikasi ekonominya dan tak lagi bergantung pada minyak.

Bahkan menteri keuangan Arab menyebut kebijakan baru ini “menyakitkan.” Pemerintah berencana menghemat $26 miliar, namun kerusakan akibat virus Covid-19 dan anjloknya harga minyak disebut telah merugikan bank sentral Arab Saudi dengan jumlah yang serupa pada bulan Maret saja.

Defisit anggaran Arab pada kuartal pertama tahun ini sebesar $9 miliar.

Biaya hidup di Arab Saudi semakin tinggi, ketika pendapatan dari sektor minyak merosot. [Foto: AFP/BBC]
Ini bukan pertama kalinya Arab Saudi berhemat. Pada Mei 1998, saya menghadiri pertemuan GCC di Abu Dhabi di mana Putra Mahkota saat itu, Abdullah, memberi peringatan keras pada rekan sesama pemimpin negara-negara Teluk Arab.

“Harga minyak sekarang $9 per barel,” katanya. “Ini bukan saatnya bersenang-senang. Harga ini tidak akan menguat. Ini saatnya kita mengencangkan ikat pinggang.”

Harga minyak justru menguat ke lebih dari $100 per barel, tapi setelah pemerintah membekukan perekrutan tenaga kerja dan mengerem proyek-proyek konstruksi di seluruh bagian Arab Saudi.

Kali ini masalahnya mungkin lebih serius. Virus corona dan anjloknya harga minyak telah merusak rencana proyek-proyek di Arab Saudi, membuat banyak orang mempertanyakan apakah program Vision 2030 yang digaungkan putra mahkota masih bisa tercapai.

Vision 2030 bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi atas minyak dan tenaga kerja ekspat, dan memiliki program utama membangun kota futuristik senilai $500 miliar di tengah gurun pasir bernama NEOM.

Pemerintah mengatakan proyek ini masih berjalan, namun sebagian besar analis mengatakan pengurangan anggaran dan penundaan sekarang tak dapat dielakkan.

“Sektor swasta akan sangat terdampak oleh kebijakan ini. Ini juga membahayakan penciptaan lapangan kerja, yang akan mempersulit pemulihan ekonomi jangka panjang,” kata Michael Stephens.

Reputasi global Arab Saudi tercela setelah pembunuhan Khashoggi dan upaya penutupannya. Bahkan duta besar Arab untuk Inggris menyebutnya “noda dalam reputasi kami.”

Pengadilan dan hukuman yang dijatuhkan untuk kasus ini, di mana beberapa tersangka bebas, dikritik pedas oleh kelompok hak asasi manusia dan laporan khusus PBB untuk pembunuhan ekstra yudisial.

Namun Arab Saudi, sebuah negara besar yang berperan penting dalam ekonomi global, tidak bisa tetap diacuhkan.

Beberapa waktu belakangan Arab ingin membeli saham-saham strategis di investasi penting seperti upayanya kali ini untuk mengakuisisi 80% saham klub sepakbola Newcastle United, yang dikritik oleh pasangan Khashoggi, Hatice Cengiz, atas alasan etis.

Kejahatan perang juga dilakukan oleh semua pihak di Yaman, yang dimulai oleh serangan udara pesawat-pesawat Arab Saudi yang dipasok oleh Amerika Serikat dan Inggris.

Namun jumlah korban sipil dari serangan udara tersebut dikritik oleh Washington dan negara-negara lainnya.

Perang itu tidak menghasilkan banyak, dan merusak salah satu negara termiskin di Arab. Dukungan untuk pemerintah Arab Saudi pun berkurang.

Dua sekutu yang dapat diandalkan oleh putra mahkota dan pemimpin de facto Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun tahun ini ia membuat kesal keduanya dengan membuka keran minyak dan membanjiri pasokan minyak di pasar, yang merusak ekonomi dalam negeri AS dan Rusia.

Hubungan Arab Saudi dengan Iran tetap dingin, dan hubungan Iran dengan negara tetangga Qatar tetap lebih baik ketimbang Arab dengan Qatar.

Di dalam negeri, MBS mempercepat liberalisasi sosial dengan mencabut larangan perempuan menyetir dan membolehkan kebebasan lain seperti menonton film di bioskop, konser musik dan balap mobil dengan penonton pria dan wanita.

Di permukaan, aturan di Arab Saudi tidak lagi seketat dulu. Tapi di balik layar, represi politik tetap terjadi, di mana setiap orang yang berani mempertanyakan kebijakan MBS berpotensi ditahan dan dipenjara dengan tuntutan “mengancam keamanan nasional.”

Pemenggalan kepala sesuai hukum masih berlangsung dan Arab masih menjadi negara yang sering dikritik oleh kelompok hak asasi manusia.

Ini semua berarti sekutu Arab Saudi masih canggung memperlakukan negara itu sebagai rekannya, dan kadang malu, meskipun Arab adalah pemain besar dalam ekonomi internasional. Arab dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT G20 berikutnya yang digelar pada November.

Kekuatan MBS, yang baru berusia 34 tahun, nampaknya tak terbendung. Ia didukung oleh ayahnya, Raja Salman yang berusia 84 tahun, dan ia telah menyingkirkan lawan-lawannya untuk menjadi raja berikutnya.

Sepupunya yang dulu berpengaruh, Pangeran Mohammed Bin Nayef, hanyalah satu dari banyak tokoh senior yang telah ditahan dan dilucuti kekuasaannya. MBS menjadi putra mahkota setelah meluncurkan kudeta di istana pada 2017.

Tokoh-tokoh veteran dan konservatif di Arab khawatir bahwa kebijakan MBS yang radikal dan tidak biasa akan berbahaya bagi negara. Namun ada juga yang mengatakan bahwa saat ini banyak yang tidak berani membantah MBS karena takut ditahan.

Meski demikian, MBS tetap populer di dalam negeri, terutama di kalangan anak mudanya. “Mereka yang paling diuntungkan dari liberalisasi MBS, ia punya konstituen besar di demografi ini,” kata Sir William Patey.

Sebagian besar popularitas itu lantaran lahirnya nasionalisme baru di Arab, yang direfleksikan oleh MBS sendiri. Namun banyak juga yang berharap MBS dapat melahirkan ekonomi yang cemerlang di masa depan. Jika impian itu tidak terealisasi di lima tahun ke depan, maka kekuatan absolut kerajaan Saudi mungkin akan sedikit terganggu. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar