Internasional

Pandemi Covid-19

Anti China dan Rasisme di Australia Meningkat, Wanita Diludahi di Jalan

Sydney  – Dua wanita telah dilecehkan secara rasial dan diludahi oleh wanita muda lain yang menyebut mereka “anjing Asia” yang “membawa korona ke sini” dalam video mengejutkan  diunggah ke media sosial dan menjadi viral.

Dalam rekaman video tersebut seorang wanita muda mengenakan pakaian abu-abu berteriak teriak kasar saat dia bergegas mengancam ke arah mereka. Pada satu titik ia berusaha menendang wanita yang dilecehkan saat berjalan di sebuah jalan di Sydney Australia.

Video menjadi viral setelah diunggah ke Reddit dan Facebook kemarin. Polisi NSW telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki insiden tersebut.

“Polisi sekarang mencari seorang wanita yang melakukan pelecehan tersebut,” kata sebuah pernyataan seperti dikutip dilaman news.com.au

Tentu saja kejadian tersebut membuat publik di Australia gempar. Orang-orang yang mengalami rasisme anti-Asia di Australia selama pandemi coronavirus didesak untuk berbagi kisah mereka.

Minggu ini, sekelompok orang Asia-Australia yang peduli meluncurkan survei baru di mana insiden ini dapat dilaporkan.

“Ada lonjakan rasisme yang keluar dari situasi COVID-19 ini. Ini dimulai segera setelah berita utama pertama menggetarkan bagaimana ini semua salah China,” kata co-organiser proyek Erin Chew kepada SBS News.

Ms Chew mengatakan selain beberapa insiden rasisme yang dilaporkan ke polisi, ada banyak insiden yang tidak dilaporkan terhadap warga Cina-Australia dan orang-orang dengan warisan Asia yang lebih luas. Dia mengatakan hasil survei awal telah mengkhawatirkan.

“Orang-orang melaporkan menerima pesan di media sosial, mengatakan kepada mereka untuk berhenti makan anjing dan kelelawar. Dan ada banyak cemoohan ras di jalan-jalan,” kata Ms Chew.

Dia mengatakan hasilnya akan digunakan untuk melihat seberapa parah dan meluasnya rasisme.

Ms Chew mengatakan dia “tidak terkejut sama sekali” bahwa orang-orang dari latar belakang Asia telah mengalami rasisme.

“Ini adalah sesuatu yang telah menggelegak di Australia selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad,” katanya, mengutip ‘bahaya kuning’ dan kebijakan Australia.

“Dan sayangnya, ada banyak ketidaktahuan [di Australia] bahwa setiap orang yang terlihat Cina berasal dari daratan Cina.”

Rasisme Anti China di Indonesia

Sementara itu Institute For Policy Analysis of Conflict (IPAC) atau Lembaga Analisis Kebijakan Konflik, menilai The Islamic Stated of Iraq and Syria (ISIS) berada di balik provokasi anti warga keturunan China dan Tionghoa di Indonesia, di tengah-tengah sikap tulus Pemerintah China membantu Indonesia di dalam memerangi meluasnya wabah Penyakit Korona Virus, atau Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Demikian rilis IPAC, Jumat pagi, 3 April 2020. Laporan analisis berjudul: “IPAC Short Briefing No.1: Covid-19 and ISIS In Indonesia”, dan dapat diakses di situs resmi IPAC, mengakui ada sikap sinis terungkap ke permukaan di media massa berupa sikap anti China, di tengah-tengah Pemerintah Indonesia berjuang melawan wabah Covid-19.

IPAC memang tidak menyebut, apakah ada oknum politisi busuk, ilmuwan tukang, dan kaum kelompok radikal, secara terang-terangan menyatakan sikap anti China di Indonesia.

Namun, dalam perkembangan terakhir, memang ada sejumlah oknum politisi busuk, ilmuwan tukang, dan kelompok radikal di Indonesia, patut diduga selalu bersikap sinis kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo, karena dinilai terlalu mengistimewakan bantuan medis dari China di dalam penanganan Covid-19.

Apabila mengacu kepada laporan IPAC, tidak menutup kemungkinan para politisi busuk, ilmuwan tukang, kelompok radikal, memiliki tujuan yang sama dengan ISIS, yaitu anti China.

Sikap kalangan politisi busuk, ilmuwan tukang, kelompok radikal mendiskreditkan, Pemerintahan Presiden Indonesia, Joko Widodo, karena dinilai pendukung China.

ISIS memusuhi China, karena negara itu diklaim melakukan tindakan diskriminatif terhadap orang Islam dari Suku Uighur di China.

Sikap anti Barat dilakukan ISIS, dengan menuding Covid-19, bentuk pembalasan atas penghancuran Baghouz pada Maret 2019, dan yang terburuk mimpi buruk Tentara Salib (karena kelompok Barat identik dengan Kristen).

Diungkapkan IPAC, pada 13 Maret 2020, buletin berita online-nya, Al-Naba, mengeluarkan arahan tentang bagaimana menangani Covid-19, memperingatkan para pendukungnya untuk tidak melakukan perjalanan daerah yang tertimpa bencana (Eropa, misalnya) dan yang sudah berada di daerah tersebut tidak boleh pergi.

Ini menggunakan referensi untuk Alquran dan hadits (ucapan dan tindakan Nabi) untuk mendesak para pendukung untuk mencuci tangan dan untuk menutup mulut saat menguap atau bersin.

Pada saat yang sama, ISIS telah membuat panggilan berulang-ulang di media online agar para pendukungnya mengambil keuntungan tentang keasyikan musuh dengan virus dan serangan gunung. Beberapa dari pesan ini ada beredar di Indonesia.

“Indonesia, Covid-19 telah memicu sentimen anti-Cina di media sosial yang jauh melampaui komunitas pro-ISIS. Ini dibangun di atas dasar sejarah yang panjang dan berperan dalam masalah politik di berbagai bidang bagian dari masyarakat tentang ketergantungan Pemerintah Presiden Indonesia, Joko Widodo, pada Tiongkok untuk infrastruktur pengembangan dan investasi asing, terutama di sektor ekstraktif,” demikian IPAC.

IPAC sendiri terdiri dari sejumlah tokoh publik seperti yang terpampang di laman web, seperti Sidney Jones, Prof Dr Azumardi Azra, Goenawan Mohamad, Todung Mulya Lubis dan Almarhum wartawan senior Aristides Katoppo. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar