Hukum & Kriminal

Keluarkan Asap dan Bau Menyengat

Warga Protes Pembuangan Limbah Kimia di Tepi Sungai

Kediri (beritajatim.com) – Masyarakat Desa Maesan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri digegerkan dengan munculnya kepulan asap dari tumpukan karung berisi limbah di talut sungai. Asap berwarna putih tersebut disertai dengan bau menyengat yang mengganggu pernafasan.

“Kejadiannya kemarin sore. Setelah hujan turun, tumpukan karung berisi limbah di lahan milik pak Badrul mengeluarkan asap. Asap tersebut melayang-layang hingga radius 3 kilometer. Baunya sangat menyengat seperti kotoran ayam,” kata Mohammad Najib, warga setempat.

Najib tinggal di sekitar Balai Desa Maesan. Dari lokasi munculnya asap, terpaut jarak kurang lebih 1 kilometer. Bau menyengat tersebut berlangsung lebih dari 2 jam. Banyak warga yang tidak tahan dengan aroma tak sedap itu.

“Warga yang keluar rumah memakai masker. Bahkan, ada sejumlah anak balita yang diungsikan ke rumah saudaranya karena khawatir dampak dari menghirup aroma dari limbah tersebut,” terang Najib.

Najib bersama pulihan warga mendatangi lokasi pembuangan limbah itu. Mereka memprotes pemilik lahan yaitu, Badrul Munir yang berasal dari Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kras. Mereka meminta supaya pemilik lahan memindahkan seluruh limbah itu, karena khawatir dengan dampak buruk yang ditimbulkan.

Pertemuan antara warga dengan pemilik lahan itu dijembatani oleh Kepala Desa Maesan, Ahmad. Dalam pertemuan spontanitas itu, masyarakat menyampaikan keluhannya. Sementara pemilik lahan menyatakan permintaan maafnya.

“Kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat Desa Maesan dan juga pak Kades. Kami tidak tahu apabila dampaknya seperti ini. Karena kami sendiri hanya ditawari tanah urug gratis oleh warga,” ungkap Badrul Munir.

Kepala Desa Banjar Anyar itu mengaku, empat bulan lalu didatangi oleh warga untuk menawari tanah uruk. Karena kebetulan dirinya membutuhkan untuk membuat tanggul penahan tanah, akhirnya dia mengiyakan.

“Tanah ini warisan dari kakek. Karena mengalami erosi oleh air sungai, kemudian kami sempat membuat geronjong. Tetapi masih juga ambrol. Kebetulan ada yang menawari tanah uruk, saya mengiyakan,” beber Badrul.

Tanah uruk yang ditawarkan tersebut ternyata berisi limbah yang diduga dari bahan berbahaya dan beracun B3. Limbah tersebut dibungkus dalam karung. Jumlahnya mencapai ratusan sak. Limbah tersebut ditata rapi pada plengsengan sungai.

Limbah tersebut bereaksi ketika terkena air hujan. Muncul asap dari limbah yang beraroma tidak sedap. Bahkan, menurut masyarakat sempat mengganggu pernafasan. Badrul mengaku, bingung apabila harus mengalihkan tumpukan limbah itu.

“Saya juga bingung harus dipindahkan kemana. Saya hanya diberi dan saya sudah minta kepada yang memberi untuk mengambilnya kembali. Tetapi dalam jumlah besar ini, tentunya juga membutuhkan waktu yang lama,” jelas Badrul.

Karena pertemuan spontan tersebut tidak membuahkan hasil, akhirnya pada pihak diminta untuk melakukan upaya penyelesaian di Balai Desa. Sementara itu, kasus tersebut sebelumnya telah di ketahui oleh Dinas Kebersihan Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri. Bahkan, pihak dinas telah dilakukan pengambilan sampel dua bulan lalu.

Disisi lain, Polres Kediri Kota menerjunkan timnya untuk melakukan penyelidikan. “Saya sudah perintahkan anggota untuk cek ke lokasi,” kata Kasat Reskrim Polres Kediri Kota, AKP Hanif Fatih Wicaksono. [nng/ted].





Apa Reaksi Anda?

Komentar