Hukum & Kriminal

Warga Jember Protes Mepetnya Gedung Depo Bangunan dengan Kampung

Jember (beritajatim.com) – Warga RT 03 RW 5 Lingkungan Mrapa, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memprotes jarak gedung Depo Bangunan di kawasan Tanrise City Jember dengan rumah mereka yang berada di sisi timur.

Rahmad Hidayat, mantan Ketua RT 03, sangat mengapresiasi investasi di kawasan Tanrise City Jember. “Investasi ini akan menjadikan ekonomi di Jember bergerak dan menyebabkan perekrutan tenaga kerja dan multiplier effect lain,” katanya.

Namun, Rahmad meminta agar setiap prosedur perizinan dilengkapi dan ditaati. “Tanrise akan membangun superblok. Itu poin positif. Tapi bagi warga yang berdekatan langsung dengan proyek, kami ingin agar proyek ini memberikan manfaat bukan ancaman. Saat sosialisasi, kami menyampaikan kepada mereka agar dampak lingkungan diperhatikan,” katanya.

Bangunan pertama di kawasan Tanrise adalah Depo Bangunan. Sesuai surat keputusan bupati tentang izin mendirikan bangunan (IMB) tertanggal 2 Juli 2019, bangunan tersebut memiliki luas 11.256,31 meter persegi, berdiri di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates. Namun ternyata jarak bangunan dua lantai itu dengan rumah warga terlalu dekat.

Warga kemudian melihat Peraturan Bupati Jember Nomor 12 Tahun 2006 tentang Izin Mendirikan Bangunan. “Di pasal 27 disebutkan, jika ada bangunan, jarak minimal sempadan belakang dan samping itu empat meter. Namun jarak yang terdekat di sini 1,7 meter dari rumah penduduk,” kata Rahmad.

Warga mengkhawatirkan dua kerawanan, yakni kerawanan saat gempa dan kebakaran. “Bangunan itu kalau sudah beroperasi, sebagian besar barang di dalamnya rentan terbakar. Ada cat thinner, gabus, kertas, dan lain-lain. Kita tidak bisa jamin. Ancaman kebakaran bisa setiap saat terjadi. Kalau sudah terbakar, maka pastilah yang terdampak rumah warga yang paling dekat,” kata Widi Prasetyo, Kepala Seksi Keamanan RT 03.

Ancaman kedua adalah gempa bumi. “Bagaimana kalau pada malam hari, saat kita enak-enak tidur, bangunannya roboh ke timur. Bagaimana nasib saudara-saudara kita yang rumahnya paling dekat,” kata Widi.

Manajemen PT Mega Depo Indonesia dan pengembang Tanrise Property sudah datang bertemu warga pada 24 Agustus 2020. Disepakati persoalan akan diselesaikan dalam waktu tiga kali 24 jam. Namun hingga saat ini, belum ada jawaban yang memuaskan warga.

Warga hanya meminta agar bangunan Depo Bangunan tersebut dibongkar dan dimundurkan dengan jarak sesuai perda agar aman bagi rumah mereka. Jika tidak, maka warga minta agar ada pembebasan lahan rumah-rumah yang terdampak atau berdekatan dengan bangunan tersebut.

Beritajatim.com meminta konfirmasi kepada Hengly Linelejan, Marketing Communication Supervisor Tanrise Property, Minggu (4/10/2020) dan Senin (5/10/2020). Namun dia tidak bisa menjawab. “Saya coba info ke kantor pusat. Mohon maaf dikarenakan saya di sini perwakilan untuk divisi sales marketing Tanrise City Jember selaku developer,” katanya via WhatsApp, Minggu. Namun, keesokan harinya ia juga tidak bisa memberikan jawaban.

Beritajatim.com juga mencoba mengonfirmasi via WhatsApp dan telepon kepada Johnny Liyanto, Direktur PT Megadepo Indonesia. Namun sampai telepon terakhir dilakukan pada 13.09 WIB, tidak ada respons. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar