Hukum & Kriminal

Sidang Kasus Pembunuhan Juragan Rosokan

Vonis Berbeda dengan Tuntutan, Ini Tanggapan Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Terkait vonis kasus pembunuhan dan pembakaran juragan rosokan, Eko Yuswanto (32) yang berbeda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto menegaskan bahwa vonis tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap.

“Tadi disampaikan ini belum mempunyai kekuatan hukum tetap, masih ada upaya hukum di Pengadilan Tinggi. Teman-teman Pengadilan Negeri ini kan tingkat pertama, kita upaya hukum. Biarin aja di rel,” ungkap Kepala Kejari Kabupaten Mojokerto, Rudy Hartono, Senin (4/11/2019).

Namun, lanjut Rudy, satu poin didapat yakni berdasarkan yurisprudensi turut serta dikategorikan sejajar atau sama dengan pelaku. Sementara pelaku di dakwaan penuntut umum sama sehingga JPU pikir-pikir dengan upaya banding yang diajukan tersangka I, Priyono (38).

“Kita pikir-pikir untuk yang satu, satunya kita terima. Pinginnya kita dua-duanya, supaya apa? Supaya berkeadilan, bukan haram pidana mati itu. Di tempat saya yang lama, udah berapa lama. Pidana mati diputus Pengadilan Tinggi, dikuatkan oleh Majelis kasasi hukuman mati juga,” katanya.

Menurutnya, apabila di Pengadilan Tinggi vonis lebih ringan dari tuntutan JPU, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tuntutan hukuman mati bagi kedua tersangka kasus pembunuhan dan pembakaran juragan rosokan yakni terdakwa I Priono Alias Yoyok Bin Jupri dan terdakwa II Dantok Narianto Alias Gondol Bin Dodik Narianto adalah hukuman mati.

“Nggak masalah. Ini kan dari sisi penuntut umum, apapun keputusannya kita harus hormati. Ternyata Majelis hakim memutuskan sesuai dengan penuntut umum, yang satunya masih kurang sependapat. Cuma sedikit saja nanti. Saya dengar di Mojokerto di kabupaten tuntutan dan diputus (hukuman mati, red) baru pertama kali,” tegasnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut dua terdakwa kasus pembunuhan dan pembakaran juragan rosokan, Priyono dan Dantok Narianto dengan hukuman mati. Sementara dalam sidang vonis, Ketua Majelis Hakim Joko Waluyo memvonis terdakwa I hukuman mati dan terdakwa II 20 tahun penjara. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar