Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Usai Divonis 7 Tahun, Mantan Bupati Novi Rahman Kapok Terjun ke Dunia Politik?

Surabaya (beritajatim.com) – Mantan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat divonis tujuh tahun denda Rp 200 juta dan subsider dua bulan kurungan oleh majelis hakim yang diketuai I Ketut Suarta dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya, Kamis (6/1/2022).

Novi merasa tak kaget dengan vonis tersebut, sebab kasus yang menjeratnya diyakini by order. Bagi Novi, kasus yang menjerat dirinya ini berkaitan dengan pengamanan untuk pemilihan Bupati dan juga legislatif pada 2024 nanti.

Lantas apakah Novi kapok untuk terjun ke dunia politik lagi dan kembali fokus menjadi pengusaha? Secara eksklusif kepada beritajatim.com, Novi menceritakan bagaimana rencana kedepan dirinya paska menjalani kasus hukumnya ini.


Terjun ke dunia politik bagi Novi adalah menjadi bagian dari pilihan hidupnya. Melihat potensi yang ada di Nganjuk membuat Novi ingin terjun untuk memaksimalkan potensi tersebut. Menjadi orang nomor satu di Nganjuk adalah cara yang dianggap tepat oleh Novi.

Novi mengakui bahwa selama dia menjabat sebagai Bupati Nganjuk, dia sama sekali tidak pernah memberikan uang kepada siapapun. “Memang selama saya menjabat, saya nggak pernah ngasih ke pihak A, pihak B memang nggak pernah saya kasih,” ujarnya.

Berawal dari sikap tegas dan terlalu “kencang” dalam menjalankan pemerintahan dengan banyak melarang kebijakan yang tak ada kaitannya dengan pembangunan dan kepentingan masyarakat inilah yang dirasa Novi membuat banyak orang merasa kepentingannya terganggu.

Terkait jual beli jabatan di Pemkab Nganjuk sendiri kata Novi, jangankan untuk jabatan sebagai staf, untuk jabatan yang sangat diinginkan oleh setiap ASN sekelas Sekretaris Daerah (Sekda) saja dirinya tidak pernah menerima satu rupiah pun. “Itu Sekdanya masih hidup, bisa ditanya itu saudara Yasin itu sekdanya, pernah nggak dimintai pak Novi, satu rupiah saja nggak ada,” ujar Novi.

Begitupun jabatan Kepala Dinas yang diangkat Novu pada tahun 2019, tidak ada satupun yang harus membayar uang pada dirinya. “Tidak ada satupun yang saya mintai uang dan tidak ada juga yang ngasih ke saya satu rupiahpun,” ujarnya.

Begitupun untuk penerimaan tenaga tidak tetap di Nganjuk, Novi juga selalu mengintruksikan untuk tidak melakukan sogok menyogok. “Dari situlah banyak pihak yang kepentingannya terganggu, karena bagi saya hal terkecil seperti membawa uang ke rumah untuk makan anak isteri saya dari harta yang tidak halal itu adalah suatu pantangan bagi saya,” ujar Novi.

Karena kebijakan-kebijakan yang dibuat tersebut membuat Novi dinilai masih menjadi kekuatan yang sangat kuat di Nganjuk secara politis. Sehingga untuk menghabisi adalah dengan mengkriminalisasi hukum. “OTT ga ada uang lho, saya di OTT dengan Kajari, seharusnya kalau namanya OTT ya Kajari ditangkap, mantan kedua DPR yang saya kunjungi juga ditangkap. Ini langsung ngambil saya, saat saya tanya suratnya juga nggak ada, katanya nanti nanti,” ujarnya.

Saat ditangkap kata Novi, dia dalam kondisi penuh tekanan terlebih lagi saat melakukan penangkapan didepan anak dan isteri Novi para petugas membawa senjata lengkap dan tentunya itu membuat shock anak dan isterinya.

“Kayak saya ini buronan atau gembong narkoba kelas kakap sehingga harus diamankan dengan menggunakan senjata lengkap, ini kan sebuah kriminalisasi yang keterlaluan. Saya dipaksa mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan,” ujarnya.

Novi meyakini bahwa masyarakat sudah melek informasi sehingga mengetahui bahwa kasus yang dialami Novi ini adalah murni kriminalisasi.

Kebijakan-kebijakan Novi waktu dia masih menjabat, saat ini juga sudah dihapus. Seperti, surat keterangan tidak mampu yang dibawa ke Rumah Sakit untuk dibiayai pemerintah. “Ini sudah dihapus semua, arahnya kemana ya ke proyek, padahal ini murni untuk masyarkat,” ujarnya.

Rencana kedepan apakah Novi akan kembali ke dunia berpolitik? “Kalau dibilang kapok ya kapok, tapi kalau tidak orang seperti kami ini yang betul betul tegak lurus, terus siapa lagi yang memimpin kalau semuanya ada topeng dibelakangnya. Untuk keluarga menyerahkan semua ke saya, kalau memang hasil istikarah harus kembali ke dunia usaha ya saya kembali ke dunia usaha kalau harus menjalankan lagi pemerintahan ya saya jalankan lagi pemerintahan saat ini saya belum bisa memutuskan,” ujarnya.

Pada keluarga, Novi selalu berpesan bahwa apapun putusan hakim harus sabar dan tetap tabah dan bertawakal. Tapi tawakal tidak harus diam saja, ada usaha yang harus dilakukan. “Memang hasil akhir dipasrahkan pada Tuhan, tapi ikhtiar tetap harus dilakukan,” ujarnya. [uci/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar