Hukum & Kriminal

Tuntut Tanah Warisan Dikembalikan, Pria Ini Malah Dipolisikan

Malang (beritajatim.com) – Seorang warga Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Sujarwo, menuntut agar tanah warisan yang menjadi haknya dikembalikan.

Alih-alih berbuah manis, demi menjaga tanah leluhurnya, Sujarwo bahkan beberapa kali harus berurusan dengan kepolisian. Sedikitnya sudah 20 kali Sujarwo menyewa pengacara. Namun, pendampingan hukum yang di dapat tak juga membuahkan hasil hingga menguras banyak biaya.

“Sudah 20 kali saya pakai pengacara. Tapi ya begitulah, belum ada satu pun yang bisa tuntas. Padahal seluruh bukti-bukti kepemilikan tanah milik mbah buyut saya semuanya saya pegang,” ungkap Sujarwo, Kamis (27/2/2020).

Sujarwo mengklaim, ada 23 dan 8 hektar tanah warisan yang dikuasai dan digarap oleh pihak lain. Semestinya, kata Sujarwo, hak atas tanah itu adalah mutlak miliknya selaku ahli waris.

Tanah yang kini dikuasai dan digarap oleh pihak lain itu, beber Sujarwo, sesuai bukti-bukti di desa merupakan warisan dari nenek buyutnya, Saerah atau mbok Irah.

“Jadi ceritanya nenek saya, waktu era Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965), itu nenek saya ditakut-takuti, dituduh-tuduh PKI, karena takut, akhirnya tanah itu dibiarkan kosong. Kemudian dikuasai sama veteran, dari veteran itu lalu dibagi-bagi. Seiring berjalanya waktu, tanah yang dikuasai orang lain tidak bisa disertifikatkan. Karena muncul nama Sairah, nenek saya. Sehingga kalau mau ngurus, ya mencari saya minta tanda tangan saya,” papar Sujarwo.

Pria yang sehari-hari beternak kambing itupun masih terus berjuang mengembalikan tanah yang menjadi haknya tersebut. Sujarwo mengaku mengantongi surat-surat yang sah dari orangtua kandung dan neneknya.

“Saya ada letter C tanah itu. Itukan tanah nenek buyut saya. Maunya ya saya ambil kembali tanah itu. Kita baik-baikan saja. Tapi kadang kok saya justru dilaporkan Polisi. Saya Cuma ingin ada keadilan dan kebenaran, karena tanah tersebut secara bukti memang milik keluarga kami,” terangnya.

Sujarwo selaku ahli waris yang sah berharap, tanah itu bisa kembali padanya. Segala upaya untuk mengembalikan tanah warisan itupun terus ditempuh oleh Sujarwo. Meski, sejak 20 Februari dan 26 Februari 2020 lalu, Sujarwo harus menghadapi panggilan Polisi di Polres Malang.

“Saya dilaporkan dua orang yang menggarap tanah warisan keluarga kami pengrusakan. Padahal itu tanah nenek kami. Saya datangi dan beri klarifikasi ke penyidik, kalau itu tanah kami. Kami tunjukkan bukti-buktinya juga,” pungkas Sujarwo. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar