Hukum & Kriminal

Terungkap, Surono Warga Jember Ini Dibunuh Istri dan Anak Sendiri

Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal bersama B dan Bhr pelaku pembunuhan Surono, Kamis (7/11/2019).

Jember (beritajatim.com) – Misteri kematian Sugiyono alias Surono (51), warga Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur akhirnya terbongkar. Surono dibunuh oleh istrinya B (45) dan anaknya sendiri berinisial Bhr (25).

Polisi mengamankan kedua tersangka setelah meminta keterangan dari delapan orang saksi. Dari keterangan saksi dan pengakuan tersangka, akhirnya diketahui jika Surono dibunuh pada Maret 2019, sekitar pukul 23.00. “Mereka melakukan pembunuhan berencana. Ini ide bersama B dan Bhr,” kata Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal, Kamis (7/11/2019).

Surono dibunuh oleh Bhr saat tidur di lantai dengan menggunakan linggis. Sementara B berperan mematikan lampu rumah untuk mempermudah pembunuhan, dan menyediakan alat penerangan (head lamp) dan linggis. Pukulan linggis diarahkan pada tulang pipi dan rahang sebelah kiri Surono, dan menyebabkannya meninggal setelah mengalami pendarahan hebat. “Dimungkinkan darah masuk ke paru-paru sehingga Surono meninggal dunia,” kata Alfian.

Bhr menyeret mayat Suroso keluar dari kamar. B sebenarnya hendak membantu mengangkat mayat sang suami. Namun melihat banyaknya darah yang mengucur, B pun ketakutan. Akhirnya Bhr melarangnya. “Sudah, tidak usah ikut-ikut. Saya selesaikan,” katanya, seperti ditirukan Alfian.

Mayat Surono dibawa ke bagian belakang rumah yang saat itu masih berbentuk gedeg atau terbuat dari bambu. Di sana, Bhr menggali lantai tanah sedalam 80 centimeter. Mayat Surono dimasukkan di dalam lubang galian dengan posisi kepala di sebelah barat dan posisi kaki ditekuk dengan sedikit miring. “Setelah itu langsung diberi semen satu sak dan air,” kata Alfian.

Kelar mengubur jasad Surono, Bhr masuk ke kamar belakang dan menemukan tas milik Surono yang berisi uang Rp 6 juta. Uang itu diambil oleh Bhr yang kemudian mengantarkan B ke rumah Misnatun, ibunda B, dengan menggunakan sepeda motor CB 150 R. “Lalu Bhr kembali ke Bali,” kata Alfian. Di sana ia bekerja sebagai tukang.

Tiga hari kemudian, B menelepon Bhr untuk mengabarkan bahwa lantai penutup lubang makam Surono retak. Bhr meminta sang ibu menaburkan semen dan menambahkan air. Namun rupanya lubang itu tetap tak tertutup sempurna. Akhirnya Bhr pulang ke Jember untuk mengecor lantai setebal 25 centimeter. “Rumah itu pun dibangun permanen, lengkap ruang kamar mandi, tempat parkir sepeda motor, dan tempat jemuran,” kata Alfian.

Lantai yang menutupi lubang kuburan mayat Surono pun dikeramik dan direncanakan sebagai musala dekat dapur. Kuburan tersebut baru dibongkar pada 3 November 2019 oleh polisi, setelah mendapat laporan dari warga dan dilakukan penyelidikan.

Surono dibunuh karena urusan asmara, dendam, dan perebutan warisan. Bisnis kebun kopi Surono membawa hasil yang menggiurkan. “Bhr selalu meminta uang kepada korban dan tahu kalau korban setiap tahun memiliki keuntungan panen kebun kopi,” kata Alfian.

Selain itu, Surono diketahui menjalin hubungan dengan perempuan berinisial I. Ini yang membuat B sakit hati.

B dan Bhr dijerat dengan pasal 340 KUHP subside pasal 338 KUHP junto pasal 55 KUHP. ‘Mereka terancam hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun,” kata Alfian. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar