Hukum & Kriminal

Terungkap Alasan Ali Bakar Jasad Rosidah

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin berkomunikasi dengan Ali Heri Sanjaya saat rekontruksi pembunuhan Rosidah di Mapolresta.

Banyuwangi (beritajatim.com) – Ali Heri Sanjaya menjalani proses rekontruksi kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap gadis bernama Rosidah (17) rekan kerjanya, Sabtu (25/1/2020) lalu. Usai melakukan sejumlah adegan, dirinya mengungkapkan alasan membunuh dan kemudian membakar jasad korbannya.

“Jadi di sini tadi ada temuan baru, yaitu alasan dia (Ali) membakar korban karena ada tumpukan lanjaran (tiang bambu kecil) di dekat lokasi pembunuhan,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin, Rabu (5/2/2020).

Hal itu diakui langsung oleh Ali saat ditanya Kapolresta Arman. Dia menyebut, tidak ada pilihan lain usai memastikan wanita itu meninggal. “Saat di lokasi, saya pukul dengan dua tangan, lalu dia jatuh dan saya cekik hingga mati. Kemudian saya bakar. Alasan saya ya untuk menghilangkan jejak, itu saja,” kata Ali.

Sebelumnya, dia juga mengaku membunuh korban karena sakit hati. Pelaku sering di-bully dengan perkataan yang dinilai kurang baik.

“Jadi awalnya, alasan dia membunuh itu kan dia sering dibilang sama korban itu dengan sebutan gendut, sumo, boboho, miskin. Dan itu dikatakan korban saat banyak pelanggan di warung, dia sering manggil pelaku seperti itu,” imbuh Arman.

Perkataan itu, kata Arman, kerap kali dikatakan mulai korban masuk kerja di sebuah warung makan di Jalan Jagung Suprapto Banyuwangi. Saat bersamaan, perkataan itu hanya disimpan oleh pelaku.

Hingga akhirnya memuncak, dirinya merencanakan strategi untuk menghabisi nyawa kawannya itu. “Selain alasan lain, memang ingin menguasai harta korban, yaitu sepeda motor dan handphone. Dari awal memang alasannya karena ekonomi,” jelas Kapolresta.

Begitu halnya pelaku, dia mengamini pernyataan Kapolresta tersebut. “Saat dibilang seperti itu, saya hanya diam saja,” pungkasnya.

Usai membunuh, motor korban dijual ke warga Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo seharga Rp 4 juta. Sedangkan, handphone korban dijual ke warga Parijatah Wetan, Kecamatan Srono dengan harga Rp 1,25 juta.

Belakangan, Polresta Banyuwangi juga menangkap kedua orang pembeli barang-barang milik korban. Dia juga sempat menjadi saksi dalam rekontruksi pembunuhan. Keduanya disebut sebagai penadah. [rin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar