Hukum & Kriminal

Tersangka Korupsi Penerimaan PBB Kapas Dijebloskan Penjara

Bojonegoro (beritajatim.com) – Setelah menjalani pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro selama lebih dari empat jam, tersangka dugaan kasus korupsi penerimaan dana Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) P2 Kecamatan Kapas, Soeyono Hadi dijebloskan ke penjara.

Kasi Pidsus Kejari Bojonegoro, Achmad Fauzan mengatakan, penahanan tersangka dugaan kasus korupsi penerimaan dana PBB itu karena hasil penyelidikan yang dilakukan Jaksa Penyidik sudah mengarah ke indikasi pelanggaran hukumnya. Penahanan dilakukan di Lapas Kelas II A Bojonegoro.

“Setelah proses pemeriksaan selesai langsung kita tahan yang bersangkutan (tersangka) guna proses hukum lebih lanjut,” ujar Fauzan, Selasa (30/7/2019).

Indikasi pelanggaran hukum yang dilakukan tersangka, Koordinator Penerima PBB Kecamatan Kapas itu melanggar Pasal 2 dan 3 Undang-undang RI Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2001, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

“Setoran PBB dari Kecamatan Kapas itu digunakan sendiri oleh tersangka, tidak disalurkan ke negara,” ungkapnya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) memiliki waktu selama 20 hari untuk menyusun berkas dakwaan sebelum diajukan ke Pengadilan Tipikor.

Sekadar diketahui, dugaan korupsi PBB yang dilakukan oleh tersangka dilakukan di lima desa yang ada di Kecamatan Kapas mulai 2014 sampai 2015. Yakni Desa Wedi, Tanjungharjo, Bendo, Bangilan dan Desa Tapelan. Rinciannya, Desa Tanjungharjo Rp 18 juta, Bendo Rp 19,8 juta dan Desa Bangilan Rp 6,9 juta. Total di tahun 2014 sebesar Rp 44,9 juta.

Pada 2015 total korupsi yang dilakukan tersangka Rp 212 juta dengan rincian dari Desa Wedi Rp 33 juta, Tanjungharjo Rp 123 juta, Bendo Rp 106 juta, Desa Tapelan Rp 37 juta. Sehingga total kerugian negara sebesar Rp 346 juta.

Saat dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro, tersangka Soeyono Hadi tidak memberikan keterangan mengenai jumlah uang negara yang sudah dikembalikan. Saat menuju ke mobil yang akan membawanya ke tahanan tersangka menutup wajahnya menggunakan tas yang dibawanya.

“Sudah ada uang negara yang dikembalikan oleh tersangka senilai Rp 271 juta. Sehingga tersangka tinggal menikmati uang sebesar Rp 17 juta. Ini merupakan itikad baik dari tersangka,” ujar Penasehat Hukum tersangka, Nur Syamsi. [lus/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar