Hukum & Kriminal

Tersangka Dilepas, Polisi Pastikan Kasus Beras Oplosan Tetap Berlanjut

Sumenep (beritajatim.com) – Polres Sumenep memastikan bahwa penanganan terhadap kasus dugaan pengoplosan beras untuk bantuan pangan non tunai (BPNT) tetap berlanjut, meski tersangka yakni Latifa dibebaskan dari tahanan.

“Tersangka Latifa dibebaskan demi hukum, karena masa penahanannya sudah habis. Tetapi proses hukumnya tetap berlanjut,” kata Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Rabu (20/05/2020).

Bebasnya tersangka dari tahanan Polres tertuang dalam Surat Perintah Pengeluaran Penahanan nomor pol : SPP-Han/48.f/V/2020/Reskrim, tanggal 18 Mei 2020 yang ditandatangani Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi.

Pertimbangan yang tercantum dalam surat tersebut bahwa untuk kepentingan bantuan penyidikan dalam hal penahanan dan terhadap tersangka, jangka waktu penahanan telah berakhir dan tidak dapat diperpanjang lagi.

Karena itu, tersangka harus dikeluarkan dari tahanan demi hukum atau bahwa kepentingan pemeriksaan belum terpenuhi (P.21) dan tidak ada kekhawatiran tersangka akan melarikan diri atau akan merusak/ menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana, maka perlu untuk mengeluarkan surat perintah ini.

“Berkas tersangka sudah dikirim ke Kejaksaan setelah gugatan praperadilan selesai. Kejaksaan memberikan petunjuk P19 kepada penyidik polres untuk dilengkapi. Setelah seluruhnya dilengkapi, berkas dikirim kembali ke kejaksaan dan baru kemarin ada petunjuk tambahan dari kejaksaan untuk dilengkapi kembali berkas tersebut,” papar Widiarti.

Latifa (43), warga Jl. Merpati, Pamolokan, Sumenep, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pengoplos beras BPNT. Penetapan tersebut merupakan buntut penggerebekan sebuah gudang beras yang dilakukan Polres Sumenep pada Rabu (26/03/2020).

Di gudang beras milik Latifa yakni UD Yudatama Art itu diduga terjadi pengoplosan beras. Modus pengoplosan beras di gudang itu, beras keluaran Bulog dicampur dengan beras tanpa merk (beras petani). Beras-beras itu kemasannya dibuka, kemudian dituang ke lantai dan dicampur. Setelah itu, beras disemprot dengan cairan pandan, kemudian diangin-anginkan dan dikemas ulang dengan kemasan 5 kg bermerk ‘Ikan Lele Super’.

“Penyidik Polres Sumenep sudah maksimal dalam melakukan proses penyidikan kasus tersebut. Hal itu dibuktikan dengan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Sumenep yang dimenangkan oleh polres,” ujar Widiarti.

Ia menambahkan, perkara tersebut merupakan kasus pertama yang pernah ditangani di Sumenep. Karena itu, perlu ketelitian dalam melengkapi alat bukti untuk dapat dilanjutkan ke tahap penuntutan.

“Polisi dan jaksa sudah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat memproses kasus beras tersebut. Pasca petunjuk tambahan dari kejaksaan, penyidik polres akan melengkapi berkas-berkas sesuai petunjuk,” tegasnya. [tem/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar