Hukum & Kriminal

Terpisah 7 Tahun, Bertemu Gara-gara Heboh Isu Penculikan di Jember

Jember (beritajatim.com) – Selama bertahun-tahun, Nana Sunardi (30), warga Desa Karangsawah, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah hidup mengembara. Pertemuan dengan keluarganya terjadi justru gara-gara kabar hoaks soal penculikan di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Nana mengalami gangguan jiwa dan menjalani pengobatan di rumahnya di Brebes tujuh tahun silam. Namun pada suatu hari mendadak ia menghilang tanpa membawa kartu identitas. Keluarga mencarinya ke sejumlah tempat. Namun hasilnya nihil.

Nana muncul di Dusun Krajan, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari, Senin (16/2/2020) kemarin. Layaknya seorang pengembara, dia membawa kantong berisi baju ganti dan alat mandi.

Kehadiran Nana memantik kecurigaan warga. Isu penculikan anak-anak yang terdengar akhir-akhir ini membuat warga mudah curiga dan merundungnya secara verbal. Namun dia kemudian dibiarkan pergi.

Rupanya kejadian di Krajan ini diunggah ke media sosial Facebook oleh akun Fifin Alfina, Selasa (17/2/2020). Di sana tertulis: ‘Waspada penculikan anak hampir terjadi di Desa Tugusari. Ini foto penculik yang berhasil dikepung namun melarikan diri.’

‘Jadi untuk warga Jember khususnya warga Tugusari saat ini sedang ramai dengan penculik tersebut. Mohon berhati-hati. Penculik beraksi dari tadi sore. Untung saja tidak ada korban.’

‘Modus yang digunakan yaitu penculik pura-pura gila dengan membawa karung berisikan sabun, modol, gayung, dan lain-lain. Ternyata penculik tersebut membawa banyak teman dengan membawa mobil berplat Madura. Mohon sebarkan info ini kepada warga agar berhati-hati.’

Kepala Kepolisian Sektor Bangsalsari Ajun Komisaris I Putu Adi mengatakan, informasi dari akun ini membuat warga terprovokasi. Kebetulan Nana pada Selasa itu berada di Desa Bangsalsari.

“Di sana dia juga di-bully. Ada bully fisik namun sedikit-sedikit. Warga kemudian ada yang menelepon Pak Kepala Desa. Untung datang Pak Kades, mencegah warganya,” kata Adi, Kamis (20/2/2020).

Nana kemudian diamankan di Markas Polsek Bangsalsari. Identitasnya terungkap setelah polisi menanyainya berulang-ulang. “Karena yang bersangkutan lebih banyak diam, dan kadang nyambung, kadang tidak,” kata Adi.

Setelah dicek, keluarga Nana pun bisa dihubungi. “Ciri fisik yang terlihat adalah tangan kirinya terluka saat mencari ramban kayu. Dia jatuh. Kata keluarga, mungkin kepalanya kena. Dia sempat dirawat di rumah sakit jiwa,” kata Adi.

Adik Nana, Ivan Maulana, membenarkan jika kakaknya mengalami gangguan jiwa dan kabur saat dalam masa pengobatan. “Tahu-tahu sudah di Jember,” katanya.

Ivan bersyukur bertemu Nana di Jember. “Saya senang sekali bertemu kakak,” katanya.

Namun bagi polisi, persebaran hoaks penculikan ini harus dihentikan. “Siapa penyebarnya kami akan telusuri melalui media sosial sehingga sampai ke masyarakat luas,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminalitas Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Yadwivana Jumbo Qantasson.

Kepolisian Resor Jember membentuk tim untuk menelusuri penyebaran kabar bohong (hoaks) mengenai penculikan anak-anak. Menurut Jumbo, berita penculikan itu massif sehingga seakan-akan nyata. Masyarakat diminta agar tetap waspada, tanpa harus termakan oleh hoaks.

Sampai saat ini ada tiga laporan mengenai kabar penculikan di Jember. “Tapi bisa kami patahkan semua,” katanya.

Jumbo meminta kepada masyarakat agar tak terburu-buru menyebarkan kabar mengenai dugaan penculikan tanpa konfirmasi. “Karena jika itu meresahkan masyarakat dan orang lain, tentu ada konsekuensi hukumnya,” katanya.

Namun Jumbo tetap mengimbau kepada masyarakat agar tetap menjaga anak masing-masing. “Jangan lepas dari pengawasan,” katanya. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar