Hukum & Kriminal

Terjual 200 Motor, Satu Motor Gedrikan di Malang Ongkosnya 1 Juta

Malang (beritajatim.com) – Sindikat jual beli motor gedrikan, diduga melibatkan banyak orang. Salah satu pelaku yang tertangkap Satuan Reserse Kriminal Polres Malang, bernama Khotib Krisna (43), warga Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

“Tersangka yang kami amankan ini adalah sindikat ya. Satu orang berinisial EC juga sudah diamankan tim dari Polda Jatim. EC ini bagian dari sindikat yang berhasil kita tangkap,” ungkap Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar, Rabu (12/8/2020) siang.

Peran EC, warga Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ini, adalah seorang tulang ahli gedrik. Gedrikan adalah merubah nomor rangka dan nomer mesin pada sepeda motor. Teknik gedrikan yang rapi, biasanya menggunakan mesin.

Satu motor yang dikeluarkan pabrikan resmi, sudah mempunyai nomor rangka dan nomer mesin asli bawaan motor. Nah, untuk menyesuaikan nomor hasil gedrikan, biasanya para sindikat ini lebih dulu mencari Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB), faktur pembelian dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Setelah surat-surat asli seperti BPKB, faktur pembelian dan STNK terpegang, pelaku dalam sindikat ini akan berburu motor ke sejumlah lessing. Kemudian, motor tersebut dibeli dengan harga murah. Motor lalu dibawa ke pelaku yang mahir merubah nomor mesin dan nomor rangka (Gedrikan-red).

Tujuan motor di gedrik, untuk menyesuaikan nomor rangka dan nomer mesin yang tertera dalam surat-surat resmi seperti BPKB, faktur pembelian dan STNK. Setelah proses penggedrikan rampung, satu unit motor lengkap dengan surat-surat kendaraan itu, dijual dengan harga normal sesuai type atau jenis dan tahun pengeluaran kendaraan.

Dari pelaku Khotib Krisna inilah terungkap, ongkos membayar tujang gedrik yang ahli, sebesar Rp 1 juta. Khotib Krisna yang sudah menjual lebih dari 200 unit motor gedrik, mengaku ikut bisnis tersebut karena tidak tahu.

“Saya tidak tahu kalau ini melanggar aturan. Katanya dengan menjual motor gedrikan ini saya justru dianggap membantu negara karena sudah menjual motor yang tidak ada suratnya dengan lengkap,” beber tersangka Khotib.

Khotib berdalih hanya untung Rp 700 ribu selama menjual motor gedrikan. Ia baru menekuni bisnis tersebut 8 bulan lamannya. Sementara barabg bukti yang disita Polres Malang, yakni 25 unit motor berbagai type.

“Satu motor gedrikan keuntungan saya hanya Rp 700 ribu pak. Karena saya beli motornya masih Rp 8 sampai Rp 10 juta rupiah. Sudah 8 bulan saya jual motor ini, kalau ditotal sudah 200 lebih motor,” ujar Khotib.

Atas perbuatanya, Khotib dijerat pasal 263 tentang pemalsuan dan pasal 480 penadah motor curian dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. (yog/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar