Hukum & Kriminal

Tanpa Memakai Masker, 109 Pelanggar Protokol Kesehatan di Mojokerto Ditindak

Operasi Yustisi yang digelar Polresta Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Sebanyak 109 pelanggar protokol kesehatan terjaring Operasi Yustisi Polresta Mojokerto, Sabtu (19/12/2020). Sebanyak 109 pelanggar Perwali Nomor 55 Tahun 2020 ini dilakukan penyitaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mojokerto.

Tim gabungan dibagi tiga. Tim 1 yang dipimpin Kasat Intelkam Polresta Mojokerto, Iptu Rohmad melaksanakan Stasioner Pemburu Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19 di Wilayah Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Dengan sasaran sepanjang jalan di Simpang 4 bentar Jalan Mojopahit dan Simpang 4 Tribuana Jalan Brawijaya.

Tim satu berhasil menjaring 35 pelanggar protokol kesehatan. Tim 2 dipimpin Kasat Sabhara Polresta Mojokerto, AKP Wiwin Rusli R melaksanakan Pemburu Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19 di wilayah Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Dengan sasaran di trowongan Tropodo Jalan Benteng Pancasila dengan hasil 38 pelanggar.

Tim 3 dipimpin Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Rohmawati Lailah melaksanakan Pemburu Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19 dengan sasaran di sekitar Alun-alun Mojokerto, simpang 4 PMI Jalan Hayam Muruk dengan hasil 36 pelanggar. Sebanyak 109 pelanggar Perwali Nomor 55 Tahun 2020 kemudian dilakukan penindakan oleh Satpol PP Kota Mojokerto.

Sebanyak 80 pelanggar dilakukan penyitaan KTP, sebanyak 21 pelanggar dilakukan penyitaan Handphone (HP), dua orang pelanggar dilakukan penyitaan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), satu pelanggar dilakukan penyitaan Surat Izin Mengemudi (SIM) C dan lima pelanggar yang membayar denda di tempat (Mobil pembayaran pajak DPPKA).

Kapolresta Mojokerto, AKBP Deddy Supriadi mengatakan, akhir-akhir ini pertumbuhan angka positif Covid-19 sedang mengalami gelombang kedua. “Syukur alhamdulillah di Mojokerto bisa terkendali dari data yang sudah disajikan dalam buku tugas maupun di aplikasi Gayatri. Operasi Yustisi yang dilakukan ini bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Karena berdampak terhadap pertumbuhan kesadaran masyarakat sendiri untuk mematuhi protokol kesehatan. Masih kata mantan Kapolres Sumenep ini, rumah sakit rujukan penanganan konflik yang ada di Kota Mojokerto yakni RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo maupun RS Gatoel sempat mengalami overload.

“Sehingga tidak menerima pasien untuk penanganan pasien Covid-19 lagi. Kamu berharap operasi yang dilakukan ini benar-benar dapat menekan angka pertumbuhan Covid-19 dan membuat patuh warga masyarakat yang ada di Kota Mojokerto maupun yang melintas di Kota Mojokerto,” katanya. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar