Hukum & Kriminal

Tangkap Pencuri HP, Polisi Justru Temukan Elang Langka di Rumah Tersangka

Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander dan Kasat Polhut BKSDA Jatim bersama barang bukti elang bondol.

Malang (beritajatim.com) – Polres Malang Kota menangkap Nur Rahman warga Joyogrand, Lowokwaru, Kota Malang karena mencuri handophone di kawasan Lowokawaru. Setelah menangkap tersangka, polisi melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti di rumahnya.

Saat melakukan penggeledahan di rumahnya, polisi tidak hanya menemukan barang bukti hasil curian, melainkan juga menemukan satwa peliharaan berjenis Elang Bondol. Ternyata, elang ini merupakan satwa langka yang terancam punah dan dilindungi oleh negara.

Polisi pun menangkap Nur Rahman sekaligus membawa Elang Bondol yang dipelihara olehnya. Elang Bondol itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, untuk dikonservasi oleh polisi.

“Nur Rahman dijerat dengan dua pasal sekaligus, pertama pasal 362 KUHP dengan ancaman kurungan penjara lima tahun. Ditambah dengan pasal 21 ayat 2 huruf d UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dengan ancaman kurungan penjara lima tahun,” kata Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander, Senin, (25/11/2019).

Kepada polisi, pelaku mengaku memelihara satwa langka karena diberi temannya yang kini sudah meninggal dunia. Katanya, satwa itu dipelihara sejak tahun 2006. Namun, sesuai pengamatan BKSDA elang bondol ini masih berusia 2 tahun. “Ada kemungkinan dia mencuri handphone untuk biaya pelihara elang. Karena biaya pelihara hewan ini juga mahal,” ucap Dony.

Kasat Polhut BKSDA Jawa Timur, Hari Purnomo mengungkapkan usai menerima elang bondol dari Polres Malang Kota. Pihaknya bakal mengembalikan insting elang bondol agar kembali liar sebelum dilepaskan ke alam bebas.

Hari Purnomo menyebut, ada beberapa tahapan, diantaranya melihat sejauh mana naluri elang ini. BKSDA bakal melakukan penilaian, apakah elang ini termasuk kategori jinak, semi liar, atau liar. Bila liar akan dilepaskan ke alam bebas, bila jinak bakal ditaruh di tempat konservasi milik BKSDA Jatim.

“Kita lihat kondisinya, perilaku dan berapa lama, apakah satwa terlalu jinak, semi liar atau liar. Statusnya sangat rentan dengan kepunahan. Jumlah populasi belum ada penghitungan pasti tapi masuk dilindungi dan tidak boleh dipelihara. Nanti, akan kami latih sebelum kita lepaskan di kawasan konservasi kami atau ke taman nasional yang ada di Jatim,” tandasnya. (luc/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar