Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Tak Terima Ditegur, Dua Pemabuk Medokan Surabaya Ditangkap Polisi

Sariadi saat diamankan di Polsek Semampir.

Surabaya (beritajatim.com) – Karena tak terima ditegur, Sariadi (26) alias Ayik, warga Jalan Medokan Semampir Indah harus merasakan jeruji besi usai menganiaya Siswandi hingga mengalami luka parah di bagian kepala dan wajah.

Dalam aksinya, dibantu koleganya berinisial Z alias Kipli. Saat ini, Z masih dalam pengejaran petugas.

“Masih diburu untuk satu pelaku yang lain. Ia juga ikut menganiaya korban di lokasi,” terang Kapolsek Sukolilo Kompol Muhammad Sholeh, Selasa (7/6/2022) sore.

Sholeh menjelaskan, aksi penganiayaan ini bermula saat dua tersangka Ayik dan Kipli menggelar pesta minuman keras (miras) di pertigaan tak jauh dari rumah pukul 15.30. “Mereka memang sering minum-minuman keras di kampungnya itu,” imbuh Sholeh.

Nah, saat asik menenggak miras tersebut, kedua tersangka dibuat kaget. Dari arah belakang, muncul korban yang langsung melontarkan teguran ke arah tersangka. Setelah itu, korban lantas meninggalkan lokasi itu menuju ke arah Tambangan.

“Saat ditinggal korban itu, tersangka yang tak terima dengan teguran, sepakat untuk mengejar korban. Ketika berada di daerah tambangan, korban dicegat dan dianiaya oleh dua tersangka dengan tangan kosong. Puas menghajar korban, mereka lalu pergi meninggalkan lokasi,” tegas Sholeh.

Atas kejadian itu, korban mengalami luka parah di wajah dan kepala. Ia kemudian mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Polsek Sukolilo. Disana, ia menceritakan kronologi yang menimpanya dan membuat laporan. “Saat itu juga kami terima laporan korban,” tandas Sholeh.

Berbekal keterangan korban, polisi lantas melakukan penyelidikan hingga berhasil meringkus satu tersangka. Sementara Z alias Kipli masih dalam pengejaran. “Sudah kami kantongi ciri-ciri pelakunya. Tinggal ringkus saja,” ucap Sholeh.

Mantan Kasat Intelkam Polres Tuban itu menyebutkan, jika bukan kali pertama Ayik berurusan dengan pihak kepolisian. Pria asal Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Mojokerto itu sudah tiga kali mendekam di tahanan Polsek Sukolilo. “Residivis kasus serupa. Sudah tiga kali,” pungkas dia. (ang/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar