Hukum & Kriminal

Tak Datang Disidang Perdana Praperadilan, Polrestabes Diminta Taat Hukum

Surabaya (beritajatim.com) – Sikap Penyidik Polrestabes Surabaya yang mangkir dari sidang perdana praperadilan disesalkan oleh kuasa hukum pemohon yakni Andry Ermawan. Andry yang mewakili kliennya yakni David (49) Warga Jalan Kenjeran menilai sikap penyidik tersebut mencerminkan sikap seorang aparat penegak hukum namun tak taat hukum.

“Sebagai penegak hukum, seharusnya pemohon harus taat hukum,” ujar Andry Ermawan usai penundaan sidang yang dilakukan hakim Bhargawa, Rabu (24/3/2021).

Diungkapkan Andry, praperadilan ini dimohonkan agar hakim pemeriksa perkara menyatakan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) Nomor S.P/70/II/RES.1.8/2021/Satreskrim tertanggal 10 Februari 2021 cacat hukum. “Dasar SP3 nya menyebut tidak cukup bukti. Ini yang menurut kami cacat hukum. Karena sebelum perkara naik ke penyidikan, tentunya sudah melalui gelar perkara,” ungkapnya.

Menurut Andry, penghentian perkara atas nama terlapor Hendrawan Teguh dkk telah melanggar hukum acara pidana. Dia menyebut, seharusnya perkara yang dimohonkan praperadilan ini telah memenuhi unsur tindak pidana dan dilanjutkan pada penetapan tersangka. Terlebih, jika mengacu alat bukti yang telah diserahkan ke penyidik termasuk juga dilakukan pemeriksaan saksi ahli.

“Dalam pokok perkara yang kami laporkan ini terkait tindak pidana pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan dan perampasan kemerdekaan. Semua saksi sudah diperiksa termasuk ahli,” jelasnya.

Dengan praperadilan ini, Andry dan tim advokat pemohon praperadilan lainnya yakni, Lukas Santoso, Achmad Hayyi, Imam Syafi’i dan Hendra Sasmita berharap majelis hakim mengabulkan permohonannya.

“Kami berharap kasus ini berlanjut ke penuntutan, karena unsur-unsur pidananya sudah terpenuhi sebagaimana yang diterangkan saksi ahli yang kami hadirkan saat penyidikan,” harapnya.

Terpisah, Salah seorang anggota bidang hukum (Bidkum) Polrestabes Surabaya, Satria membenarkan pihaknya tidak menghadiri sidang praperadilan yang diajukan David.

“Kelengkapan administrasi kami masih belum turun dari pimpinan, sehingga kami belum bisa melaksanakan kegiatan tersebut,” tandasnya.

Diketahui, praperadilan ini diajukan atas SP3 yang ditandatangi Kapolrestabes Surabaya terkait tindak pidana pencurian dengan disertai kekerasan dan perampasan kemerdekaan.

Dugaan tindak pidana tersebut terjadi pada 12 Juni 2020 lalu sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu rumah pemohon praperadilan (David) didatangi oleh beberapa orang diduga atas perintah termohon praperadilan.

Saat mendatangi rumah pemohon praperadilan itu, beberapa orang yang diduga suruhan dari termohon praperadilan menuduh istri David yakni Debora Wirastuti Setyaningsih melakukan penggelapan uang perusahaan.

Atas tuduhan itu, salah seorang oknum polisi berinisial TH bersama orang yang disinyalir suruhan termohon praperadilan mengambil barang-barang milik pemohon praperadilan dan menyuruh Debora untuk menandatangani kuitansi kosong.

Selanjutnya orang-orang tersebut juga membawa Debora untuk menunjukkan rumah Fitri salah seorang karyawan termohon praperadilan. Kemudian, Debora dan Fitri dibawa ke kantor termohon yakni PT Elmi Cahaya Cendikia dan selanjutnya terjadi penyekapan selama beberapa jam.

Atas peristiwa itu, David akhirnya melaporkan ke Polrestabes Surabaya dengan tanda bukti lapor nomor LP/B546/VI/RES.1.8/2020/Jatim/Restabes SBY tertanggal 13 Juni 2020. [uci/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk