Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Tak Bisa Bawa Marwah Keadilan, PN Surabaya Disemprot Mahkamah Agung

Hakim Itong Isnaeni Hidayat  

Surabaya (beritajatim.com) – Tertangkapnya hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yaitu Itong Isnaeni Hidayat dan juga seorang Panitera Pengganti (PP) inisial H dinilai mencoreng nama baik dan gagal menjaga marwah lembada peradilan yang bersih.

Humas PN Surabaya Martin Ginting mengakui bahwa institusi PN Surabaya saat ini sedang menjadi sorotan publik karena adanya peritiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan lembaga anti rasuah tersebut.

“Kita juga sedikit dimarahi oleh PT dan ketua PN Surabaya karena dianggap tidak bisa menjaga marwah PN Surabaya dan lembaga yang tidak pernah tersangkut perkara dengan KPK,” ujar Ginting.

Paska penangkapan tersebut lanjut Ginting, Mahkamah Agung langsung mengintruksikan untuk kembali mewarning para hakim dan juga yang lainnya untuk selalu mengingat Peraturan Mahkamah Agung (PerMA) terkait pembinaan para personil.

“PerMA nomer 7,8,9 tahun 2106 dan juga maklumat Mahkamah Agung nomer 1 tahun 2017 bahwa pimpinan secara berjenjang harus selalu mengingatkan para jajarannya dan itu selalu disampaiakan oleh pimpinan kita,” ujarnya.

Karena banyaknya personil yang ada di PN Surabaya lanjut Ginting maka tidak mungkin pimpinannya melakukan pengecekan satu persatu. Terlebih lagi, apabila dilakukan di luar jam kantor.

Martin Ginting Humas PN Surabaya

Perlu diketahui, seorang Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya inisial IH, diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Raby (19/1/2022) malam.

“ Informasinya panitera inisial H juga dibawa oleh KPK,” ujar sumber internal di PN Surabaya.

Sampi saat ini belum diketahui apa penyebab ditangkapnya hakim IH oleh petugas KPK.

Humas PN Surabaya Martin Ginting saat dikonfirmasi membenarkan adanya penangkapan terhadap IH. Dan ruang hakim IH saat ini masih disegel petugas KPK.

“ Belum tau terkait kasus apa, karena kita juga masih blank dan kaget,” ujar Ginting. [uci/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar