Hukum & Kriminal

Tahun 2019, Surabaya Bersih dari Prostitusi Pelajar

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yuni. [Foto/Manik Priyo Prabowo]

Surabaya, (beritajatim.com) – Polrestabes Surabaya melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) memastikan bahwa selama 2019 tidak ada pelajar perempuan yang terlibat protitusi di Kota Pahlawan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yuni kepada beritajatim.com, Jumat (3/1/2020).

“Tidak ada perempuan pelajar di sini (Surabaya) yang jual diri atau bekerja sebagai perempuan tuna susila. Kasus prostitusi yang kami tangani adalah perempuan dewasa dan sudah menikah,” jelasnya.

Seperti yang dipaparkan Ruth, kasus prostitusi di Surabaya sebetulnya sudah hampir 100 persen kategori prostitusi online. Dengan kemudahan alat komunikasi ponsel pintar, para penjajah seks ini lebih menyasar pria di sosial media. Begitu juga sebaliknya.

“Maka dari itu kita selalu melakukan patroli cyber. Supaya bisa memetakan pergerakan prostitusi online, perencanaan penangkapan dan pembongkaran kasus protitusi tersebut,” tandas Ruth.

Sementara saat ditanya tren permintaan lelaki hidung belang di Surabaya. kepolisian memberikan data bahwasanya seks tukar pasangan (swinger) dan satu lawan dua atau (threesome) banyak yang dicari. Sebab, pada 2019 kedua hal tersebut terkuak sebanyak 10 kasus dan semuanya berkomunikasi melalui sosial media.

“Banyak grup yang menawarkan pasangan dengan cara ini. Sebaliknya para pelanggan (lelaki hidung belang) juga demikian,” ucapnya. [man/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar