Hukum & Kriminal

Tahanan Kabur Saat Pembantaran Bukan Pemberat Vonis Majelis Hakim

Bojonegoro (beritajatim.com) – Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro memvonis Sun’an (59) terdakwa kasus pengeroyokan dengan hukuman penjara selama 10 bulan. Vonis yang diberikan majelis hakim lebih rendah dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bojonegoro selama 1,3 tahun.

Sidang dengan agenda pembacaan putusan (vonis) tersebut dipimpin oleh Hakim Ketua Eka Prasetya, dan hakim anggota Nur Jamal, dan Isdarianto. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus tersebut yakni, Dewi Lestari. Terdakwa dalam menjalani sidang tidak didampingi oleh Penasehat Hukum.

Terdakwa yang melanggar Pasal 170 KUHP itu sebelumnya diduga telah melarikan diri selama masa pembantaran karena diduga sakit. Terdakwa dibantarkan sejak 21 Desember 2018 lalu, hingga baru kembali ke tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro kemarin malam dengan diantar keluarga.

Selama terdakwa menghilang, sidang yang dilakukan setiap hari rabu iti sempat tertunda. Namun, hal itu tidak menjadi alasan pemberat untuk menghukum terdakwa lebih berat. Alasannya, kata Humas PN Bojonegoro Isdarianto, karena selama terdakwa kabur ini tidak masuk misinya saat pembantaran. “Jadi vonis yang diberikan kepada terdakwa ini murni dari fakta hasil persidangan. Dan soal terdakwa kabur selama proses pembantaran itu tidak masuk perhitungan putusan,” ujarnya, Rabu (9/1/2019).

Menurut Isdarianto, beberapa hal yang memberatkan terdakwa, perbuatan yang dilakukan telah meresahkan masyarakat. Sedangkan, selama hilang dalam masa pembantaran itu dinilai kesalahan petugas karena kurang koordinasi dan pemahaman dari pembantaran masih kurang. “Terdakwa tidak ada misi kabur, namun memang karena kurang koordinasi dan pemahaman dari pembantaran itu sendiri,” terangnya.

Sedangkan, hal yang meringankan terdakwa, salah satunya berusia lanjut, baru pertama kali melakukan perbuatan pidana, mempunyai tanggungan keluarga, menyesali perbuatannya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. “Masa penangkapan dan penahanan yang sudah dijalani terdakwa ini nanti di kurangi putusan Majelis Hakim. Sedangkan pembantaran sendiri nanti tidak terhitung penahanan yang sudah dijalani,” terangnya.

Sementara, sejauh ini pihak PN Bojonegoro mengaku belum mendapat surat terkait pengembalian terdawa yang menjalani pembantaran ke dalam tahanan Lapas Bojonegoro. Padahal dalam persidangan terdakwa bisa hadir dan berjalan sendiri meskipun tanpa harus dituntun. “Sampai saat ini belum belum ada surat pemberitahuan selesai masa pembantaran. Padahal dia sudah sehat, kalau belum sehat dia pasti masih di rawat di RSUD,” terangnya. [lus/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar