Hukum & Kriminal

Surat Keterangan Antigen Palsu di Mojokerto Seharga Rp125 Ribu dan Rp 25 Ribu untuk Saksi

Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander merilis kasus pemalsuan surat keterangan rapid antigen.

Mojokerto (beritajatim.com) – Surat keterangan antigen palsu yang dikeluarkan tersangka, Bagus Dwi Wahyu Ramadhan (26) seharga Rp125 ribu. Namun pegawai honorer UPT Puskesmas Pungging bagian loket penerimaan tersebut hanya menerima Rp100 ribu, sedangkan Rp25 ribu untuk saksi Samsul Huda alias Sulton.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, Tiksnarto Andaru Rahutomo mengatakan, pada awal April 2021 anak saksi Sulton akan mengikuti seleksi tim Bhayangkara FC, namun harus mempunyai surat rapid antigen dengan hasil negatif sebagai salah satu syarat mengikuti seleksi.

“Tanggal 13 April, saksi menghubungi tersangka melalui WA dan meminta dibuatkan surat keterangan rapid antigen dengan kesepakatan harga Rp100 ribu. Saksi mengakomodir sebanyak 10 anak sehingga tersangka menyampaikan wali murid jika biayanya sebesar Rp125 ribu,” ungkapnya, Jumat (23/4/2021).

Sebanyak 10 lembar surat keterangan antigen palsu tersebut diserahkan ke saksi di timur Terminal Pungging tepatnya di depan ruko pada, Selasa (13/4/2021) sekira pukul 13.30 WIB. Saksi kemudian memberikan uang senilai Rp1 juta kepada tersangka. Surat tersebut kemudian dibawa anak saksi kepada teman-temannya di Stadion Jenggolo Sidoarjo pada, Minggu (14/4/2021).

“Surat tersebut diserahkan ke teman-temannya di Stadion Jenggolo keesokan harinya saat mereka akan mendaftarkan diri ke panitia seleksi Bhayangkara Solo FC. Dari keterangan tersangka jika surat tersebut tidak otentik atau palsu yang dibuat sendiri menggunakan komputer di Poli Umum Puskesmas Pungging,” katanya.

Kasat menjelaskan, tanda tangan dr Heny Najawanti dan Triastuti yang tertera di surat keterangan tersebut merupakan tanda tangan yang dipalsukan tersangka. Semua perbuatan dilakukan tersangka tanpa seizin dari rekan atau pimpinannya. Tersangka menggunakan uang tersebut untuk membeli baju persiapan nikah Juni 2021 mendatang.

“Uang yang diterima tersangka dari jasa pembuatan surat keterangan antigen palsu tersebut sebesar Rp1 juta, saksi juga meminta tambahan uang Rp50 ribu untuk beli bensin. Sulton masih berstatus tersangka, kasus ini masih didalami. Tersangka dijerat Pasal Pasal 263 ayat 1 KUHP tentang Dugaan Tindak Pidana Pemalsuan Dokumen dengan ancaman 5 sampai 10 tahun penjara,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander menambahkan, dengan diungkapnya kasus surat keterangan antigen palsu tersebut, Polres Mojokerto dan Satgas Covid-19 akan melakukan pengawasan. “Agar nantinya larangan mudik bisa diantisipasi dan dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Larangan mudik sudah berlaku tanggal 22 April sampai 24 Mei 2021,” pungkasnya. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar