Hukum & Kriminal

Soal Hukuman Kebiri Pada Terdakwa Pemerkosa Anak, Kejati Masih Koordinasi Dengan Kejagung

Asisten pidana umum Kejati JatimAsep Maryono didampingi Kasi Penkum Richard Marpaung

Surabaya (beritajatim.com) – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mengaku masih koordinasi guna melakukan eksekusi hukuman kebiri terhadap Mochamad Aris (20). Asisten pidana umum Kejati Jatim Asep Maryono menyatakan pihaknya masih melakukan eksekusi badan atas putusan 12 tahun yang dijatuhkan hakim PN Mojokerto.

“Kita masih meminta petunjuk dari Kejagung. Untuk sementara kami melaksanakan eksekusi badan dulu, yang telah diputuskan oleh Pengadilan 12 tahun penjara,” ujar Aspidum, Selasa (27/8/2019).

Asep menambahkan, sang terpidana saat ini juga menjalani proses hukum yang sama dengan korban berbeda. Untuk kali ini korban adalah anak usia delapan tahun. “Sekarang perkaranya lagi disidangkan di Pengadilan Mojokerto juga oleh Kejaksaan Negeri Kota Mojokerto. Dikasus yang kedua ini korbannya berusia 8 tahun. Kalau yang kasus pertama korbannya berusia 4 sampai 9 tahun. Dan putusannya 12 tahun ditambah pidana tambahan berupa kebiri,”kata Aspidum Kejati Jatim, Asep Maryono.

Aksi bejat Muhammad Aris ini, masih kata Asep Maryono. telah dilakukan 8 kali dengan korban yang berbeda. “Semua korbannya adalah anak-anak,” terangnya.

Untuk diketahui, Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto menjatuhkan putusan 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta pada Mochammad Aris. Predator anak dalam kasus pemerkosaan ini juga dihukum pidana tambahan berupa kebiri kimia. Vonis tersebut juga diperkuat oleh Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya.

Namun eksekusi kebiri kimia tersebut belum dapat dilaksanakan karena belum ada pengaturan teknis berupa Peraturan Pemerintah (PP). Hukuman kebiri ini adalah putusan pertama di Indonesia dan menjadi yurisprudensi sejak disahkannya UU Nomor 17 tahun 2016 Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. [uci/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar