Hukum & Kriminal

Sidang Dugaan Kasus Penipuan Tambang Nikel, Ahli Akui Tak Pernah Lihat Lokasi

Saksi ahli dari ITS Ir Mudji Irmawan saat memberikan keterangan di persidangan

Surabaya (beritajatim.com) – Sidang perkara sidang lanjutan kasus penipuan tambang nikel dengan terdakwa Christian Halim kembali dilanjutkan di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (29/3/2021).

Dalam sidang kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novan dan Sabetania mendatangkan ahli, dia adalah Ir Mudji Irmawan dosen Institusi Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS).

Dalam keterangannya, Mudji menyatakan bahwa pada sekitar bulan Juli 2020, dia diminta penyidik sebagai ahli terkait pembangunan infrastruktur proyek tambang yang dikerjakan Terdakwa.

Namun, Mudji mengakui bahwa dia tidak datang sendiri ke lokasi. Namun ada tim (belakangan diketahui yang datang hanya satu orang) dengan menggunakan alat drone untuk pengambilan data.

“Dari foto dan data yang diperoleh tim kemudian saya kaji, dan saya yang bertanggungjawab,” ujar Mudji di persidangan.

Ahli menyatakan, saat melakukan kajian, dia berbekal pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan juga dokumen kontrak yang kemudian dia cocokan dengan kondisi bangunan existing yang sudah ada di lokasi.

Sementara acuan yang dia gunakan adalah dengan mengukur panjang kali lebar serta isi dari bangun sebagai kewajaran suatu bangunan.

Dari situlah kemudian ahli berkesimpulan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut menghabiskan biaya Rp 11,5 miliar atau lebih sedikit dari rencana anggaran yang diajukan Terdakwa yakni Rp20,5 miliar.

Apa yang disampaikan ahli ini berkali-kali dimentahkan tim kuasa hukum Terdakwa yakni Jaka Maulana. Pada ahli, Jaka meminta penjelasan bagaimana ahli bisa menyimpulkan adanya kerugian sementara ahli tidak datang sendiri ke lokasi.

“Nilai kerugian Rp 11,5 miliar ini, apakah berdasarkan estimasi ahli sendiri?,” tanya Jaka.

Mendapat pertanyaan tersebut, ahli tampak kebingungan. Namun akhirnya, ahli bersikukuh bahwa nilai kerugian itu dihitung berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan.

Sesuai sertifikasi yang dimiliki ahli, apakah kompetensi menghitung kerugian? Ahli kembali menjawab bahwa dari data dan fakta di lapangan yang diperoleh timnya akhirnya bisa diketahui ganti rugi.

Terkait bangunan infrastruktur yang dianggap ahli masih ada kekurangan, pengacara Terdakwa pun menanyakan apakah saksi mengetahui soal titik nol dalam pembangunan insfrastruktur ini, dan Ahli menyatakan tidak mengetahui.

“Bagaimana ahli bisa melakukan perhitungan sementara titik nolnya aja tidak mengetahui,” ujar Jaka.

Usai sidang, pengacara Terdakwa Jakan Maulana menyatakan bahwa sejak awal ahli tidak pernah mengetahui dari awal lokasi itu. Dan hal itu bisa dikatakan bahwa hitungan yang dilakulan ahli ini tidak benar dan itu merupakan estimasi sendiri karena ahli tidak mengetahui kondisi awal dan kemudian tiba-tiba melalukan penghitungan.

“Apalagi persepsi setiap orang untuk mendirikan sebuah bangunan, misalnya, kan bisa jadi berbeda-beda caranya, makanya kajian yang dilakukan Ahli tadi tidak bisa kita pegang kebenarannya,” ujar Jaka.

Kesimpulannya menurut Jaka, penghitungan yang dilakukan ahli ga ada nilainya dan hal itu hanya berdasarkan pada estimasi semata, apa yang dicantumkan di dalam kajian ahli tidak mencakup keseluruhan pekerjaan, yang akhirnya menimbulkan perbedaan nilai.

Jaka menambahkan, sesuai fakta persidangan yang ada selama ini bahwa kegiatan pertambangan tersebut sudah ada dan tidak ada kegagalan infrastruktur. Artinya, urgensi untuk menurunkan tim pemeriksa teknis terhadap proyek itu sebenarnya tidak ada.

“Misalnya, pengawasan yang dilakukan oleh BPK atau BPKP itu turun dalam hal adanya dugaan kegagalan infrastruktur, dari situ kemudian akan kelihatan adanya kerugian negara dalam kaitannya dengan dugaan tindak pidana korupsi. Sementara ahli ini, dipanggil penyidik polda yang notabenenya bekerja berdasarkan azas praduga bersalah (presumption of guilt), yang akhirnya ada tendensi bahwa ahli ini dihadirkan hanya untuk mencari kesalahan. Makanya kalau dia sudah nggak netral maka saya nggak percaya dengan hasil laporannya,” beber Jaka. [uci/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar