Hukum & Kriminal

Setahun Belum Terungkap, Keluarga Tagih Kasus ‘Pembunuhan’ Fatayat Kediri

Kediri (beritajatim.com) – Masih ingat kasus pencurian di toko kelontong Kediri yang mengakibatkan pemiliknya meninggal dunia? Sudah satu tahun kasus tersebut ditangani kepolisian, tetapi belum terungkap. Hari ini, pihak keluarga almarhum Binti Nafiah (39) asal Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri menagih.

“Kami menayakan bagaimana kasusnya. Pihak kepolisian menyatakan, sampai saat ini belum ada titik temu, karena minim saksi,” kata Zaenal Fanani, adik kandung korban saat berada di Mapolres Kediri, Sabtu (15/6/2019).

Zaenal Fanani datang ke Polres Kediri bersama dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kediri. Ada lima orang yang datang ke kantor kepolisian tersebut untuk menanyakan penanganan perkara Binti Nafiah. Sempat mendatangi ruang Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK), kemudian rombongan diizinkan menemui penyidik Satuan Reskrim Polres Kediri di ruangan.

Binti Nafiah sendiri adalah anggota Fatayat NU. Korban ditemukan meninggal dunia di dalam warung kelontongnya di depan rumah Desa Canggu, Kecamatan Badas, satu tahun silam, tepatnya, pada 9 Juni 2018 lalu. Kuat dugaan, ibu dua anak tersebut menjadi korban pencurian dan pembunuhan.

Pasalnya, terdapat luka di bagian kepala korban yang diduga akibat pukulan benda tumpul. Selain itu, kondisi toko tempatnya berjualannya juga dalam kondisi teracak-acakan dan dompetnya ditemukan polisi di belakang rumahnya dalam keadaan kosong tanpa isi.

“Harapannya, sebagai keluarga agar cepat-cepat terungkap, karena cukup lama. Selain itu, masyarakat sekitar selama ini resah dan merasa ketakutan apabila pelakunya belum terungkap,” imbuh Zaenal Fanani.

Sementara itu, Mohammad Muklas, SH, advokat dari LBH NU Kabupaten Kediri yang mendapatkan kuasa dari keluarga korban mendesak Kapolres Kediri, AKBP Roni Faisal memberikan atensi khusus terhadap kasus tersebut. LBH NU berharap agar kasus itu dapat diambil alih Polres Kediri dari Polsek Pare.

“LBH NU Kabupaten Kediri datang ke Polres Kediri untuk melakukan klarifikasi sejauh mana penanganan perkara dari anggota kami Fatayat NU yang menjadi korban pembunuhan. Dimana proses penanganan sudah satu tahun, tetapi tidak ada progresnya. Dari hasil klarifikasi didapat informasi tidak adanya kejelasan. Dimana, pihak keluarga koordinasi dengan Polsek Pare menyatakan perkara dilimpahkan ke polres. Namun, ketika kita datang di SPK Polres, ternyata perkara belum dilimpahkan. Jadi, terkesan dipingpong. Kami sampaikan ke Kanit Pidum dalam klarifikasi agar Kapolres atensi, untuk menarik kasus tersebut ke Polres, karena sudah satu tahun dan kami warga nahdliyih menunggu-nunggu,” desak Muklas usai keluar dari ruang penyidik.

Terpisah, Pama Subbag Humas Polres Kediri Ipda Aris menyatakan, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Pihaknya berharap, keluarga maupun saksi bisa membantu kepolisian dengan jalan memberikan informasi, agar kasus tersebut dapat segera diungkap.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, jenazah Binti Nafiah pertama kali ditemukan oleh anaknya yang masih duduk dibangku kelas 3 SD. Selanjutnya, anak korban memberitahu kepada saudaranya bernama Nur Hawin dan Abidin bahwa korban sakit. Tetapi setelah diperiksa dan dicek oleh saksi, dinyatakan korban meninggal dunia dengan kondisi luka di kepala bagian belakang. Kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Pare.

Sementara itu, Abdul Kholiq, suami korban dalam pernyataan sebelumnya membeberkan dari pengakuan anak sulungnya, apabila saksi terbangun karena mendengar keributan, saat jam makan sahur pukul 03.00 WIB. Ketika sang anak terbangun, dia mendapati seseorang tak dikenal di dalam rumahnya.

Anak korban sempat mendapat ancaman dari pelaku. Kemudian pelaku melarikan diri melalui pintu belakang. Sang anak lantas mengetahui jika ibunya sudah dalam keadaan tergeletak di lantai dengan keadaan meninggal dunia. [nng/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar