Hukum & Kriminal

Sengketa Tanah, Pengusaha di Kediri Digugat Ahli Waris

Kediri (beritajatim.com) – Satu keluarga di Kabupaten Kediri mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) setempat, atas kepemilikan tiga bidang tanah peninggalan orang tuanya. Mereka menggugat seorang pengusaha, karena diduga mengusai harta waris tanpa persetujuan pemilik maupun ahli waris.

Gugatan tersebut diajukan oleh ahli waris almarhum Ami ke PN Kabupaten Kediri. Penggugat menuntut tiga bidang tanah yang terletak di Desa Mranggen, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri yang kini dikuasai oleh pengusaha ternama, Ir. H. M. Insyaf Budi Wibowo dikembalikan.

Sementara itu persidangan memasuki agenda pembacaan tanggapan dari penggugat terhadap jawaban pihak tergugat. Dalam persidangan tersebut, kedua belah pihak diwakili oleh tim kuasa hukumnya masing-masing.

“Kita sebagai kuasa hukum dari perwakilan penggugat benar-benar mengupayakan hak-hak ali waris, yang mana telah ada peralihan sertifikat atas nama bu Ami kepada Insyaf Budi Wibowo alias pak Gaguk. Peralihan berdasarkan PPJB bukan akta jual-beli, yang mana saat itu bu Ami kondisinya sepuh dan sakit, yang harusnya didampingi oleh ahli waris. Tetapi, tiba-tiba muncul sertifikat atas nama Insyaf Wibowo,” kata Yunita Rafika Sari, selaku kuasa hukum penggugat, Rabu (2/12/2020).

Sengketa kepemilikan itu bermula dari almarhumah Ami (ibu penggugat) meminjam uang sebesar Rp 50 juta kepada H. Mahfud Mazdi, pada 1999 silam. Sebagai jaminannya, Ami menyerahkan tiga sertifikat tanah miliknya dan milik saudaranya yang berada Desa Mranggen, Kecamatan Purwoasri.

Yunita Rafika Sari, kuasa hukum penggugat.

Sertifikat Hak Milik (SHM) pertama dengan nomor 147 luasnya 718 meter persegi atas nama Ami di Desa Mranggen. Kedua, SHM di Desa Mranggen seluas 1.500 meter persegi juga atas nama Ami. Ketiga, SHM di Desa Mranggen seluas 2.510 meter persegi atas nama Amat (saudara Amin).

“Almarhummah Ibu Ami membutuhkan dana untuk membantu biaya salah satu menantunya bernama Budi Waluyo dalam Pilihan Kepala Desa Pandansari. Saat itu, H. Mahfud Mazudi, menawarkan pinjaman dana tersebut untuk biaya pencalonan Pilkades dengan catatan harus ada jaminan atau agunan,” tambah Yunita Rafika.

Kesepakatan antara almarhumah Ami dengan H. Mahfud disaksikan oleh Budi Waluyo bersama sang istri Astutik (anak dan menantu Ami). Dalam kesepakatan itu, apabila Budi Waluyo terpilih menjadi Kades Pandansari, maka H. Mahfud Mazdi diperbolehkan mengerjakan sebagian tanah bengkok.

Namun, apabila menantu almarhumah Ami tersebut tidak terpilih menjadi Kades, maka harus mengembalikan pinjaman dana tersebut beserta bunga sebesar Rp 15 juta dari pinjaman. Sehingga totalnya menjadi Rp 65 juta.

Tiba saat Pilkades Pandansari. Tetapi, Budi Waluyo gagal menjadi kades. Malahan, Budi dan sang istri ditinggalkan oleh ibunya, Ami. Pada 23 Oktober 1999, Ami meninggal dunia karena sakit.

Lalu, dua bulan setelahnya, Astutik, putri almarhumah beserta suami datang ke rumah H. Mahfud Mazdi. Maksud kedatangan mereka untuk mengembalikan uang yang dipinjam oleh orang tuanya beserta bunga. Besarnya Rp 65 juta.

Keduanya berharapan dapat membawa pulang kembali tiga sertifikat yang berada di tangan H. Mahfud. Tetapi, usaha mereka tidak berhasil. Sebab, H. Mahfud menolak. H. Mahfud minta tebusan dengan nilai lebih besar. Bahkan, dua kali lipat dari nilai hutang ibunya. Akhirnya Astutik dan suami pulang dengan rasa kecewa.

Setelah mengumpulkan uang, Astutik dan para ahli waris almarhumah Ami kembali mendatangi rumah H. Mahfud. Waktu itu, mereka membawa uang Rp 100 juta untuk tiga sertifikat yang dijaminkan terhadap hutang ibunya Rp 50 juta. Lagi-lagi, H. Mahfud menolak. Bahkan, permintannya terus meningkat, hingga akhirnya ahli waris almarhumah Ami mengalami kesulitan.

Kemudian, pada 2010, H. Mahfud Adzi meninggal dunia. Paska itu, ahli waris almarhumah Amin bermaksud untuk menelusuri kembali tiga setifikat tanah warisan yang sebelumnya berada di tangan H. Mahfud. Ternyata, sertifikat tersebut sudah berpindah tangan. Sertifikat beralih kepemilikan kepada orang lain yaitu, Ir. H. M. Insyaf Budi Wibowo atau yang akrab dengan panggilan Gaguk.

Mengetahui hal tersebut, ahli waris almarhumah Ami dan almarhum Amat (paman) pun akhirnya mengambil jalur hukum. Mereka mengajukan gugatan ke PN Kabupaten Kediri. Tidak hanya pengusaha M. Insyaf Budi Wibowo yang diajukan ke meja hijau, namun gugatan juga ditujukan kepapda ahli waris keluarga H. Mahfud Mazdi, notaris yang menerbitkan akte jual beli tanah tersebut sebagai pihak turut tergugat. Baik, terjadinya kesepakatan antara almarhumah Ami kepada almarhum H. Mahfud. Maupun dari H. Mahfud Mazdi kepada M. Isyaf Budi Wibowo.

“Hubungan atara almarhumah Ami dan almarhum H. Mahfud adalah hutang atau pinjam meminjam dengan menjaminkan tiga sertifikat. Bukan hubungan jual-beli dan almarhumah Ami serta para penggugat tidak pernah menandatangani akta jual beli,” tegas Fika, panggilan akrab Yunita Rafika Sari.

Sementara itu, sejauh ini pihak tergugat masih belum bisa dimintai keterangan terkait gugatan tersebut. Kuasa hukum tergugat usai persidangan menyatakan, penjelasannya sesuai dalam persidangan. Sedangkan, Insyaf Budi Wibowo yang dihubungi melalui pesan whatsapp belum menjawab. [nm/kun]

Revisi Redaksi: Almarhumah Ami dan H. Mahfud adalah bukan suami istri. Sebelumnya tertulis bahwa almarhumah Ami dan H. Mahfud adalah suami istri.


Apa Reaksi Anda?

Komentar