Hukum & Kriminal

Sempat Melarikan Diri, Sopir Bus SP Dibekuk di Boyolali Jawa Tengah

Magetan (beritajatim.com) – Empat orang tewas dalam kecelakaan maut antara bus lintas provinsi Singaraja Putra (SP) dengan truk fuso di km 595 B Tol Ngawi-Kertosono Desa/Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, kemarin (7/1/2020). Saat kejadian sopir bus sempat melarikan diri sebelum akhirnya dibekuk kepolisian setempat di daerah Boyolali, Jawa Tengah.

“Saat di TKP yang kita temui sopir cadangan, setelah kita identifikasi dan kita bawa korban luka di RS, baru kita sadar sopir yang asli tidak ada ditempat,” ujar Kapolres Magetan AKBP Festo Ari Permana saat press conference di Mako Polres setempat, Jumat (8/1/2020).

Ia menjelaskan, setelah kejadian penyidik melakukan olah TKP untuk mengetahui keberadaan sopir. Dan menemukan sebuah HP di dashboard depan yang diduga kuat milik sopir bus tersebut. “Selanjutnya penyidik mencoba menghubungi salah satu nomor HP yang diduga milik sopir tersebut dan ternyata HP tersebut benar miliknya,” jelasnya.

Berdasarkan Informasi yang didapat dari Istri sopir bus SP melalui HP tersebut, bahwa yang bersangkutan memiliki keluarga di daerah Boyolali Jawa Tengah. “Hasil koordinasi dan penyelidikan akhirnya berhasil melakukan penangkapan HAR (45) sopir bus SP di rumah keluarganya di Boyolali,” imbuh Kapolres.

Sementara itu tersangka HAR (45) seorang warga yang berasal dari Bandar Lampung, mengaku bahwa dirinya memang mengantuk sehingga terjadi laka tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada niat dari dirinya untuk melarikan diri, namun karena panik dan merasa sangat takut lalu memutuskan untuk melarikan diri.

“Pada saat itu saya ngantuk, saya tau ada kendaraan di depan, namun lama kelamaan hilang, bukan maksut saya melarikan diri, mungkin karena saking saya takutnya, dan untuk keluarga korban saya meminta maaf,” ungkapnya.

Atas kejadian ini menurut keterangan Kapolres Magetan bahwa tersangka akan dijerat Pasal 310 ayat (4) UULAJ No 22 Tahun 2009 yang menyebut bahwa dalam hal kecelakaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dapat pidana paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp.12.000.000.

Selain itu tersangka juga dijerat Pasal 312 UULAJ No 22 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor lalu terlibat kecelakaan dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraanya, tidak memberikan pertolongan, tidak melaporkan kejadian dipidana paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp.75.000.000.(asg/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar