Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Sekali Kencan, Prostitusi di Jombang Bertarif Rp 150 Ribu-200 Ribu

Dua PSK yang diamankan polisi dari eks lokalisasi Tunggorono Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polres Jombang membongkar praktik prostitusi di kawasan eks lokalisasi Tunggorono. Dari kasus tersebut, korps berseragam coklat mengamankan seorang muncikari berinisial AI (31), warga Dusun Kemiri, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

Dari pengungkapan kasus tersebut diketahui, tarif PSK (penjaja seks komersil) untuk sekali kencan antara Rp 150 ribu sampai 200 ribu. Kini polisi melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap AI. Sedangkan dua PSK yang diamankan adalah DF (23), warga Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri dan RN (31), warga Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk.

Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Teguh Setiawan membenarkan pembongkaran kasus tersebut. Ia menjelaskan, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di sebuah warung yang terletak di eks lokasisasi Tunggorono masih sering digunakan untuk transaksi seksual. Polisi kemudian melakukan pemantauan.

Nah, pada Kamis (10/6/2021) petugas kembali mendapatkan kabar bahwa ada praktik prostitusi di warung tersebut. “Akhirnya kita lakukan penggerebekan. Ada dua PSK yang sedang melayani tamunya di dalam kamar, yakni DF dan RN,” kata Teguh, Jumat (11/6/2021).

Muncikari yang diamankan dari eks lokalisasi Tunggorono Jombang

Selain itu, petugas juga mengamankan seorang muncikari berinisal DF. Semuanya kemudian digelandang ke Polres Jombang guna pemeriksaan lebih lanjut. Dari keterangan mereka, tarif yang dipatok oleh muncikari antara Rp150 ribu hingga 200 ribu. Dari tarif tersebut, DF mendapatkan bagian Rp 25 ribu.

Petugas juga menyita sejumlah barang bukti dalam kasus tersebut. Di antaranya sprei warna biru motif doraemon, bungkus tisu merk tessa, dua HP (handphone), bungkus kondom merk Sutra bekas pakai, pakaian, serta uang tunai Rp150 ribu.

“Munckiari dalam kasus ini kita jerat pasal 296 KUHP, yakni tentang pekerjaanya atau kebiasaanya, dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain. Kasus ini masih kita kembangkan lagi,” pungkas Teguh. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar