Hukum & Kriminal

Sehari, 20 sampai 25 Pasangan Ajukan Cerai di Pengadilan Agama Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Kasus perceraian di Kabupaten Sidoarjo, tiap tahun mengalami kenaikan. Hingga November, jelang akhir tahun 2019 ini, kasus penceraian sudah mencapai 5.962 perkara.

“Sampai bulan ini (November) 2019 ini, kasus perceraian yang masuk di Pengadilan Agama Sidoarjo sebanyak 5.962 perkara. Sehari rata-rata kami menerima 20 hingga 25 perkara cerai,” kata Humas PA Sidoarjo, Akramudin Kamis (21/11/2019).

Dibanding tahun 2018, tambah Akramudin, mengalami peningkatan.  “Tajun lalu, masih sekitar 5 ribu perkara cerai. Baik itu gugat cerai maupun cerai gugat,” terang dia.

Meski demikian, jumlah 5.962 perkara cerai tersebut bila dipersentasikan sebanyak 70 persen dari pihak istri yang menggugat cerai suaminya. Sementara 30 persen lainnya dari suami yang menggugat cerai istrinya.

“Kalau dilihat memang lebih banyak istri yang mengajukan cerai di sini. Rata-rata, angka paling tinggi perceraian di usia 20-40 tahun,” rinci Akramudin.

Tingginya angka perceraian di Kota Delta tentu banyak faktor yang mendasari. Akramudin menyebut, faktor yang paling tinggi penyebab keretakan rumah tangga hingga berujung cerai di PA Sidoarjo disebabkan soal ekonomi.

Kemudian faktor lainnya yaitu narkoba, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perselingkuhan serta pengaruh dari orang tua.

“Untuk faktor ekonomi mencapai 50 persen. Rata-rata kalau istri yang maju (gugat cerai) mengaku kebutuhan ekonomi tidak dicukupi suami, begitupun kalau suami yang maju mengaku banyak tuntutan dari istri,” tambahnya.

Masih kata Akramudin, tingginya angka perceraian di Kabupaten Sidoarjo membuat dilema tersendiri bagi Pengadilan Agama. Ini memang dilema bagi pengadilan.

Sebab, di satu sisi, tingginya perkara perceraian yang sudah diputus merupakan suatu keberhasilan bagi pengadilan karena masyarakat sudah mulai sadar hukum, membawa persoalan perceraian di pengadilan.

Namun di sisi lain, lanjut dia, pengadilan masih belum berhasil mendamaikan kedua belah pihak untuk mengurungkan perceraian, padahal sudah maksimal berupaya memediasi kedua belah pihak agar rujuk.

“Sebagian yang mau, ada juga yang tetap meminta cerai. Kalau dari angka perceraian saat ini yang berhasil rujuk tidak kurang dari 2 persen,” jelas Akramudin. (isa/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar