Hukum & Kriminal

Satreskrim Polres Malang Bongkar Produsen Obat Ilegal

Malang (beritajatim.com) – Satreskrim Polres Malang membongkar jaringan penjualan obat-obatan tanpa dilengkapi izin edar atau ilegal, akhir pekan lalu. Dalam penggrebekan itu, Polisi menangkap dua orang pelaku yakni warga Kecamatan Gondanglegi.

Selain sebagai produsen atau peracik, keduanya juga bertindak menjadi sales. Sebelumnya pada November 2019 lalu, Polres Malang juga membongkar kasus obat ilegal. Kedua tersangka adalah Bambang Suliswanto (46), warga Desa Putat Kidul dan Zainul Abidin (54), warga Desa Karangasem, Kecamatan Gondsnglegi, Kabupaten Malang.

“Mereka berdua kami tangkap di rumah kontrakan Zainul Abidin di Desa Karangasem,” ujar Kapolres Malang AKBP Hendri Umar, Selasa (28/4/2020) sore.

Dari penangkapan mereka polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Selain obat-obatan dalam kemasan yang sudah siap edar, juga alat untuk meracik, alat sablon serta ribuan label untuk kemasan obat-obatan.

Penangkapan mereka bermula dari laporan masyarakat. Warga menginformasikan kalau di wilayah Kecamatan Gondanglegi beredar obat-obatan yang tidak memiliki izin edar. Baik izin dari BPOM ataupun Dinas Kesehatan.

Berangkat dari informasi tersebut, polisi lantas melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahui bahwa yang mengedarkan obat-obatan ilegal tersebut adalah kedua tersangka. Petugas langsung menggerebek dan menangkap keduanya tanpa perlawanan.

“Mereka ini mengemas ulang obat-obatan yang dibeli di apotek. Kemudian diracik sendiri dengan dicampur tanpa kompisisi yang benar. Obat-obatan tersebut kemudian dimasukkan dalam satu kemasan menjadi obat asam urat, sakit gigi dan gusi bengkak,” jelas Hendri.

Obat-obatan ilegal yang sudah dalam kemasan plastik tersebut, kemudian diedarkan pada pedagang di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Malang. Tersangka Bambang mengedarkan di wilayah Pasar Gondanglegi, Pagelaran, Gedangan serta Ampelgading.

Sedangkan tersangka Zainul mengedarkan obat-obatan tersebut di Pasar Dampit, Sumbermanjing Wetan, Poncokusumo dan Singosari. “Kami juga masih mengembangkan apakah juga diedarkan di wilayah lain seperti Kota Malang atau Kota Batu,” tuturnya.

Akibat perbuatannya itu, keduanya dijerat dengan pasal berlapis Undang-undang nomor 36 tahun 2009. Yakni pasal 196 Jo pasal pasal 98 ayat 2 dan 3 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. Dan pasal 196 Jo pasal 106 ayat 1 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. [yog/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar