Hukum & Kriminal

Santriwati Ini Dipaksa Layani Nafsu Bejat Pemimpin Pondok

Sumenep (beritajatim.com) – Nasib SS (14), warga Pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep benar-benar menyedihkan. Santriwati di salah satu pondok pesantren di  Pulau Giliyang justru menjadi objek pencabulan dan pemerkosaan Ir alias H. Gfn (45), yang merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren di tempat korban mondok.

“Ulah Gfn ini memang keterlaluan. Katanya dia ustad, katanya dia kiai, tapi malah tega memperkosa santrinya sendiri. Dan tidak tanggung-tanggung, korban ini sudah dipaksa melayani nafsu tersangka sekitar 30 kali,” kata kuasa hukum korban, Kamarullah, Rabu (30/10/2019).

Gfn  saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka pelaku pencabulan anak dibawah umur. Tersangka ditahan di Mapolres Sumenep untuk menjalani proses penyidikan.

“Saya sebagai pendamping korban, mewakili keluarga korban, meminta agar aparat kepolisian tidak main-main dalam menangani kasus ini. Kasihan korban. Masa depannya hancur. Keluarganya juga sangat terpukul,” ucap Kamarullah, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Achmad Madani Putra dan Rekan.

Ia membeberkan, ulah tak terpuji tersangka dilakukan sejak 2018. Pertama kali tersangka melakukan aksi itu di rumahnya. Berikutnya, tersangka juga melakukan di berbagai tempat, seperti kamar mandi, ruang tamu, ruang kelas, bahkan kandang ayam, dan di hotel.

“Menurut penuturan korban, dalam sehari ia bisa disetubuhi dua atau tiga kali. Yang di kandang ayam, lebih dari 10 kali. Yang dirumahnya juga gitu. Belum lagi di tempat lain. Jadi kalau dihitung, sekitar 30 kali korban dipaksa melayani tersangka,” ungkap Kamarullah.

Bahkan ia menduga, korban pencabulan dan pemerkosaan tersangka ini lebih dari satu santriwati. Hanya saja, sebagian besar takut untuk melaporkannya.

“Baru satu korban ini yang keluarganya memberanikan diri untuk melapor. Korban yang lain tidak berani melapor karena tersangka merupakan tokoh agama terkemuka di desanya. Selain itu, masalah ini dianggap aib,” ucapnya.

Ia bersyukur saat ini tersangka telah ditahan di Polres Sumenep, setelah dua kali panggilan pemeriksaan mangkir dari penyidik.

“Akhirnya dari Polres melakukan penjemputan paksa terlapor, kemudian diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka pemerkosaan,” ujarnya.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 81 ayat (1), (2), dan (3), serta pasal 81 ayat (1) dan (2) UU no 17 tahun 2016 tentang perubahan UU RI no 35 tahun 2014.

“Kami akan terus mengawal penanganan kasus ini, karena kasihan terhadap nasib korban,” pungkas Kamarullah.

Sementara Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti menjamin bahwa penyidik akan menuntaskan kasus tersebut sesuai aturan yang ada.

“Tersangka sudah ditahan, dan sekarang masih dalam masa penyidikan. Kami pasti akan proses kasus itu sesuai prosedur yang ada,” tandasnya. (tem/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar