Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Saksi Ungkapkan Ratu Tipu Lily Yunita Sempat DP Rumah Mewah Senilai Rp 3 Miliar

Surabaya (beritajatim.com) – Lily Yunita yang dijuluki ratu tipu karena kerap kali masuk bui atas kasus penipuan ini kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (28/9/2021).

Dalam sidang yang dipimpin Erentua Damanik itu mengagendakan keterangan saksi fakta, yakni Nyo Lili Yonata, karyawan bagian administrasi Showroom mobil 99. Banyak hal yang diungkapkan saksi selama persidangan, diantaranya adalah Terdakwa Lily Yunita sempat melakukan Down Payment (DP) sebuah rumah mewah senilai Rp 3 miliar.

Saksi Nyo Lili selaku anak buah dari pemilik showroom mobil 99 ini mengaku mendapat perintah dari sang bos untuk membuat kuitansi senilai Rp 3 miliar atas nama Terdakwa.

“Saya pernah disuruh Bos saya, pak Hengky Gunawan membikin kuitansi Down Payment (DP) pembelian rumah atas nama Lily Yunita. Waktu itu ada dua kwitansi yang saya bikin, pertama untuk DP Rp 1 miliar dan kedua Rp 2 miliar,” kata Nyo Lili Yonata di ruang sidang Kartika 1 PN Surabaya, Selasa (28/9/2021).

Diterangkan saksi Nyo Lili Yonata, perintah membikin kwitansi tersebut dikarenakan waktu itu Hengki Gunawan sedang berpergian ke luar negeri. “Waktu itu Pak Hengki pemilik Showroom 99 sedang ke Singapura. Setelah kwitansi jadi, lantas diambil sama Pak almarhum Agus,” sambungnya.

Senanda dengan kesaksian Nyo Lili Yonata, saksi Andreas Budi Waluyo yang adalah mantan pegawai di rumah Hengki Gunawan memaparkan bahwa setelah kwitansi bikinan Nyo Lili Yonata tersebut selesai dibikin, lantas diserahkan Nyo Lili kepada dirinya.

“Saya pernah disuruh Pak Hengky mengambil cek ke apartemennya Lily Yunita. Lantas cek tersebut saya serahkan ke tacik Nyo Lili Yonata untuk dibikinkan kwitansi DP rumah villa regency,” papar saksi Andreas Budi Waluyo.

Ditanya ketua majelis hakim, Erentua Damanik, berapa harga rumah Hengky Gunawan tersebut dijual? Saksi Andreas Budi menjawab rumah tersebut dibuka harga penjualannya sekitar Rp 14,5 miliar. “Setahu saya dibuka dengan harga Rp 14,5 miliar. Bu Lily Yunita waktu itu berminat membeli rumah tersebut,” jawab saksi Andreas Budi.

Sebelumnya, saksi Krisna Imanuel yang adalah karyawan BCA Kantor Wilayah (Kanwil) membenarkan bahwa terdakwa Lliy Yunita dan Dosun Bakery pernah membuka rekening di bank-nya. Kata saksi Krisna, untuk rekening pribadi Lily Yunita di BCA Kantor Cabang Pembantu (KCP) Mayjen Sungkono.

Sedangkan untuk rekening Lily Yunita dalam kapasitasnya sebagai komisaris di Dosun Bakery ada di KCP Kusuma Bangsa. Dalam sidang, saksi Krisna Imanuel juga menandasakan bahwa aktifitas rekening dan transaksi keluar masuk rekening Lily Yunita ada sebanyak 7 kali dan nilai transaksinya pun besar- besar.

“Bahkan ada yang sampai Rp 20 miliar. Yang Rp 20 miliar tersebut dari transaksinya dengan Lianawati Setyo. Juga ada penarikan tunai tanggal 30 Juni Rp 5,2 miliar. Masih di tanggal 30 Juni juga ada pemindahbukuan (PB) ke Dosun Bakery. Ada PB sebesar Rp 100 juta, ada yang Rp 707 juta,” tandasnya.

Ditanya ketua majelis hakim Erentua Damanik, terkait transaksi uang masuk dan keluar. Apakah Bank tidak menaruh kecurigaan sama sekali? Saksi Krisna Imanuel menjawab tidak. “Sebab profil Lily Yunita disebutkan sebagai pedagang, dan bidang usahanya adalah toko roti. Dalam profil juga ditulis kalau penghasilan Lily antara Rp 25 samapi Rp 400 juta,” jawabnya.

Sementara saksi Theodore Amabel Beatrice yang juga karyawan Kanwil BCA hanya menerangkan sebatas adanya Surat Penolakan Bank produk KCP Kusuma bangsa.

“Rekening Lily Yunita yang di Dosun Bakery sudah ditutup. Sebab masuk daftar hitam Bank Indonesia. Saya tidak tahu berapa saldo terakhir, tapi menurut tanggal terdekat dengan saat dilakukan penututapan, 10 Nopember ada Rp 8,4 juta,” terang saksi Theodore Amabel.

Dikonfirmasi setelah sidang, Heri Prasetyo mewakili tim penasehat hukum terdakwa Lily Yunita menceritakan duduk perkara kasus ini sebenarnya utang-piutang. Antara Lianawati Setyo dengan terdakwa Lily, jumlahnya Rp 49 miliar. Namun sudah dibayar sekitar Rp 29 miliar. Sudah ada kesepakatan diantara keduanya, selesai pembayaran pada Februari 2021. Tapi, Desember 2020 terdakwa sudah dilaporkan ke polisi.

“Pinjaman itu diberikan Februari 2020. Setiap bulan klien saya selalu tepat waktu untuk membayar utangnya itu. Tapi, sebelum itu dilunasi, bu Lily dilaporkan ke polisi. Dengan tuduhan penipuan dan penggelapan. Padahal, pembayaran itu diberikan termasuk bunganya,” ungkapnya.

Sayang, Heri Prasetyo tidak mengetahui pasti bunga dari uang pinjaman terdakwa kepada Lianawati. Ia hanya mengetahui setiap kali Lily Yunita membayar bunganya berubah-ubah. “Kalau bunganya perbulan itu ada yang Rp 200 juta. Ada juga yang Rp 300 juta. Kalau bunganya tidak pernah terlambat,” bebernya.

Dalam pinjaman yang dilakukan terdakwa kepada Lianawati, Lily Yunita menjaminkan beberapa mobil yang dia miliki. “Kesepakatannya saat itu memang hanya mobil. Tidak ada yang lain,” katanya lagi. Ia juga mengungkapkan kalau tidak ada kerjasama terkait lahan di Osowilangon, Kecamatan Tandes itu. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar