Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Sidang Notaris Edhi Susanto

Saksi Bank Tegaskan Perubahan Logo Sampul Sertifikat Syarat Mutlak Pengajuan Kredit

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmat Hari Basuki mendatangkan tiga saksi dalam sidang dugaan pemalsuan surat yang mendudukkan Edhi Susanto dan Feni Talim sebagai terdakwa. Tiga saksi tersebut adalah Happy dari pihak Bank J Trust, Oesnanto dari seksi pengukuran BPN, dan Faisol pegawai notaris Edhi.

Banyak hak yang diungkap para saksi terkait proses jual beli yang dilakukan Hadi Kartoyo dengan Tiono Satria melalui notaris Edhi Susanto dan Feni Talim.

Oesnanto misalnya, saksi adalah petugas ukur di BPN Surabaya 2. Saksi mengenal Feni Talim, pada saat itu Feni Talim mengajukan permohonan pergantian sertifikat. Feni Talim mengajukan permohonan berdasarkan kuasa yang diberikan oleh Itawati Sugiarto.

Atas permohonan yang diajukan Feni Talim tersebut, kemudian pada 9 Maret 2018 saksi melakukan pengukuran di daerah Kenjeran lokasi tepatnya objek yang diukur tersebut saksi mengaku lupa. Ada tiga bidang tanah yang dilakukan pengukuran oleh saksi, adapun syarat-syarat untuk melakukan pengukuran menurut saksi adalah bisa masuk lokasi, bisa menunjukkan lokasi.

Pada saat pengukuran, pada pihak yang diberikan kuasa apakah harus datang pada saat pengukuran. Menurut saksi wajib hadir. Menurut saksi, yang hadir pada saat itu adalah Feni Talim dan ada seorang penjaga namanya Hadi Wijaya. Tak ada kendala dalam proses pengukuran yang dilakukan saksi, karena lokasi sudah dikelilingi oleh tembok.

Masih menurut saksi, ada kekurangan batas luas saat dilakukan pengukuran. Dari tiga sertifikat dalam permohonan, satu sertifikar nomor 78 yang di jalan raya kenjeran terjadi pengurangan luas karena adanya pemotongan pelebaran jalan raya kenjeran dan sudah ada ganti rugi dari pemkot.

Untuk objek yang ada di jalan Rangkah 95-97 M 78 sertifikat masih bergambar bola dunia, tahun terbitan 1971 kondisi fisiknya pada saat pengukuran sebagian sudah masuk ke jalan Rangkah 7 dan akhirnya terjadi kekurangan luas tersebut sekitar 11 meter. Pada saat pengukuran maupun setelah pengukuran, saksi mengatakan tidak ada keberatan dari pihak manapun.

Masih menurut saksi setelah selesai proses pengukuran kemudian kemudian dilakukan proses penggambaran dan dari hasil gambar itulah kemudian keluarlah hitungan luas. Setelah ada hitungan luas, ternyata ada dua sertifikat yang mengalami pengurangan luas, yang pertama untuk pelebaran jalan raya Kenjeran yang satunya untuk Rangkah 7.

Pada saat itu saksi menghubungi pihak kuasa untuk dibuatkan surat pernyataan menerima kekurangan luas tersebut, akhirnya saksi balik lagi ke lokasi tersebut dan sudah ada surat pernyataan menerima kekurangan luas untuk proses selanjutnya.

Saksi juga menegaskan bahwa untuk merubah gambar bola dunia, memang harus ada pengukuran ulang. Pada saat saksi melakukan pengukuran, belum ada perbuhan logo bola dunia menjadi garuda. Namun pada saat saksi memberikan keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), gambar logo pada sertifikat tersebut sudah berubah.

Saksi berikutnya adalah Ahmad Faisol di bagian pengetikan akte pada kantor Notaris Edhi. Saksi menyatakan sekitar November 2017, datang dua orang yang diketahui bernama Hadi Kartoyo (penjual) dengan Tiono Satria (pembeli) ke kantor notaris Edhi Suanto tempat saksi bekerja.

Setelah mengetahui maksud kedatangan dua orang tersebut adalah untuk mengajukan permohonan perjanjian ikatan jual beli, saksi kemudian membuat draf akta ikatan perjanjian jual beli yang isinya bahwa transaksi atas tiga objek tersebut dinilai Rp 16 miliar, dengan sistem pembayaran yakni Down Payment (DP) sebesar Rp 500 juta.

Sementara kekurangan pembayaran Rp 15.500.000.000, ada dua cara pembayaran yakni yang Rp 12 miliar akan dibayarkan melalui kredit bank J Trust. Sisanya yang Rp 3,5 miliar akan dibayar secara mengangsur. Saksi menegaskan bahwa para pihak setuju dengan sistem pembayaran yang sudah disebutkan. Pun demikian dengan pembayaran Rp 12 miliar yang dilakukan melalui kredit ke bang J Trust.

Pada saat pembuatan draft tersebut, semua pihak datang diantaranya adalah Hadi Kartoyo (penjual) dengan Tiono Satria (pembeli) dan juga dari pihak bank J Trust yang bernama Yulius. Meskipun para pihak sudah datang, namun tak serta merta proses ikatan jual beli bisa dilakukan karena masih ada beberapa dokumen yang belum disiapkan.

Setelah itu, saksi memang melihat beberapa kali baik itu Hadi Kartoyo maupun Tiono datang ke kantor notaris Edhi dengan membawa dokumen. Namun, saksi tak mengetahui dokumen apa yang dibawa. Saksi menambahkan, pada 13 Desember 2017, Tiono Satria datang ke kantor notaris Edhi untuk menyerahkan DP sebesar Rp 500 juta pada Hadi Kartoyo.

Saat dilakukan penyerahan DP terdebut, disebutkan pula perjanjian bahwa apabila pihak penjual membatalkan perjanjian ikatan jual beli maka DP dikembalikan serta ada denda Rp 500 juta. Namun, apabila pihak pembeli yang membatalkan perjanjian itu, maka uang Rp 500 juta hangus. “DP diserahkan pak Tiyono pada tanggal 13 Desember 2017 terus diambil oleh pak Hadi Kartoyo pada 19 des 2017,” ujar saksi.

Pada saat Hadi Kartoyo menerima DP tersebut, Terdakwa Edhi kemudian bertanya ke Hadi Kartoyo kapan akan dilakukan tranksaksi proses jual beli karena sudah terima DP Rp 500 juta. Kemudian dijawab setelah ini akan mendatangkan isterinya Itawati untuk menandatangani proses jual beli tersebut.

Sementara saksi dari Bank J Trus yakni Happy mengatakan, dalam pengajuan kredit maka syarat mutlak adalah adanya perubahan logo bola dunia menjadi garuda pada sertifikat yang akan diajukan. Kalau tidak ada perubahan tersebut maka tidak bisa diajukan permohonan kredit.

Terpisah, Ronald Talaway saat dikonfirmasi, pihaknya mengatakan bahwa dalam keterangan saksi di persidangan, pelapor telah mengetahui adanya sertifikat yang harus diganti sampulnya. karena proses transaksi jual beli memerlukan hal tersebut.

Dan surat kuasa yang dipermasalahkan dan dianggap palsu, justru merupakan kelengkapan proses transaksi yang sejalan dengan kehendak pelapor yang menginginkan transaksi berjalan cepat. “Oleh karena itu, untuk apa terdakwa memalsukan surat kuasa ,karena memang sudah sesuai kehendak pelapor kok,tidak ada untungnya juga untuk para terdakwa,” katanya usai persidangan.

Dalam surat dakwaan dijelaskan, perkara ini berawal saat Hardi Kartoyo berniat menjual tiga bidang tanah dan bangunan kepada Tiono Satria Dharmawan pada 2017. Ketiga SHM atas nama Itawati Sidharta yang berlokasi di Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Surabaya tersebut sesuai kesepakatan dijual dengan harga Rp 16 miliar.

Sesuai rencana, pembelian tanah tersebut akan dibiayai oleh Bank Jtrust Kertajaya. Atas kesepakatan tersebut, notaris Edhi Susanto kemudian ditunjuk untuk memfasilitasi proses jual-beli tersebut. Kemudian untuk realisasi pembiayaan tersebut diperlukan pembaharuan blanko SHM atas tanah yang dibeli.

Untuk memproses jual-beli antara Hardi Kartoyo dan Tiono Satrio, diperlukan sejumlah perubahan dalam perjanjian, diantaranya perubahan sampul sertifikat yang lama (gambar bola dunia) menjadi gambar Garuda. Untuk merubah tersebut perlu tanda tangan penjual yakni Hardi Kartoyo.

Kemudian sesuai dakwaan, notaris Edhi Susanto dituding telah memalsukan tanda tangan tersebut. Atas perbutannya, notaris Edhi Susanto didakwa pasal 263 ayat (1) KUHP. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar