Hukum & Kriminal

Sakit, Dokter Diduga Cabul Tak Ditahan Polres Mojokerto

Oknum dokter, AND (60) setelah menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Oknum dokter cabul, dr AND (60) menjalani pemeriksaan tim penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto. Namun karena alasan sakit, oknum dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan ini tak ditahan.

Oknum dokter yang buka praktek di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini datang bersama kuasa hukumnya ke ruang penyidik PPA Satreskrim Polres Mojokerto, Rabu (9/1/2020) sekira pukul 09.00 WIB. Sekitar pukul 13.27 WIB atau kurang lebih 4,5 jam, oknum dokter menjalani pemeriksaan.

Dengan mengenakan celana hitam, hem batik motif bunga warna merah, dan jaket jamper warna biru dongker yang ditutupkan ke kepala; oknum dokter ini keluar ruangan penyidik didampingi dua kuasa hukumnya. Keduanya menuntun keluar ruangan untuk masuk mobil miliknya yang sudah menunggu di depan ruang penyidik.

Sejumlah wartawan yang sudah menunggu dari pagi mencoba mengkonfirmasi terkait alasannya minta kepada penyidik agar tidak menahannya karena sakit. “No comment,” ucapnya singkat sembari menutup wajah dengan map warna kuning.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Yoga membenarkan, pihaknya tidak melakukan penahanan terhadap oknum dokter tersebut lantaran alasan sakitnya. “Ya hari ini, kita tidak melakukan penahanan karena yang bersangkutan kooperatif melalui kuasa hukum,” katanya.

Masih kata Kasat, pihak kuasa hukum tersangka menyampaikan yang bersangkutan sakit. Pihaknya mengaku sudah menerima surat keterangan sakit dari yang bersangkutan sehingga ini menjadi alasan tim penyidik tidak melakukan penahanan terhadap oknum dokter tersebut.

“Memang kita sudah terima dari kedokteran di RS umum sini, intinya yang bersangkutan sedang sakit komplikasi. Jadi mengajukan untuk tidak dilakukan penahanan, untuk berkas tetap kami lengkapi dan akan kita koordinasi dengan JPU (Jaksa Penuntut Umum, red) secepatnya,” ujarnya.

Dalam keterangan yang disampaikan kuasa hukum dan surat keterangan sakit, lanjut Kasat, oknum dokter tersebut sakit diabetes dan komplikasi jantung. Menurutnya, pihaknya tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap oknum dokter tersebut.

“Informasi surat dari yang diterima diabetes dan juga komplikasi jantung. Ini sudah produk dari kedokteran sudah cukup, jadi tidak perlu kami cros cek lagi karena ini sudah kode etik kedokteran. Nanti Kita bahas di pengadilan (pengakuan oknum dokter, red). Itu konsumsi pengadilan, yang jelas kita lengkapi kita kirim biar pengadilan yang menentukan,” jelasnya.

Selama menjalani pemeriksaan, lanjut Kasat, tim penyidik memberikan 46 pertanyaan kepada oknum dokter. Menurutnya, meski tidak dilakukan penahanan karena alasan sakit, tim penyidik tetap melengkapi berkas untuk dikirim ke Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Mojokerto.

“Sudah ada 19 saksi yang diperiksa termasuk dari tersangka. Untuk alat bukti, ada saksi, sementara memang sudah cukup dua alat bukti untuk penerapan tersangka bisa diuji di pengadilan. Sementara dalam kasus ini baru beliau saja. Dari pihak korban melaporkan hanya beliau, tidak mengaku (muncikari, red),” tegasnya. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar