Hukum & Kriminal

Remaja Asal Malang Perkosa Gadis, Temannya Diminta Merekam Pakai HP

Foto ilustrasi

Malang (beritajatim.com) – Seorang remaja pria asal Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, harus berurusan dengan Polisi. Pelaku berinisial DK (17), tega berbuat asusila dengan memaksa seorang gadis yang masih berumur 16 tahun untuk bersetubuh.

Tak hanya memaksa korban, pelaku juga merekam aksi tak senonohnya hingga hubungan intimnya tersebar luas di masyarakat.

Tak terima dengan kejadian itupun, korban lantas melaporkan ke polisi. Saat ini, kasusnya sedang dalam proses penyelidikan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.

“Kasusnya masih kami selidiki dan dalami. Masih memeriksa saksi-saksi. Sesuai laporan, memang persetubuhannya direkam dengan HP yang kemudian beredar di masyarakat,” jelas Kanit PPA Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, Rabu (17/7/2019).

Informasi diperoleh, korban dengan pelaku sudah saling kenal. Kejadian persetubuhan pertama pada bulan Juni 2018 lalu. Saat itu, DK menghubungi korban untuk diajak jalan-jalan. Korban lalu dijemput pelaku di rumahnya.

Karena tidak curiga, korban mengiyakan. Namun begitu tiba di rumah pelaku, tubuh korban diseret ke dalam kamar. Selanjutnya DK memaksa melakukan hubungan layaknya suami istri.

Korban sempat menolak, namun karena dipaksa dan diancam, korban tidak bisa berbuat apa-apa. Usai melampiaskan nafsunya, DK meminta korban pulang. Setelah itu, korban menghubungi pelaku supaya tidak menceritakan kepada siapapun.

Pelaku mengiyakan permintaan korban, dengan syarat korban mau diajak berhubungan lagi. Korban tidak menggubrisnya dan tidak lagi komunikasi. Namun dua bulan kemudian (bulan Agustus, red) pelaku menghubungi korban.

Ia meminta korban datang ke rumahnya lagi. Korban menolak permintaan tersangka. Namun pelaku mengancam akan menceritakan kepada orang lain.

Takut aibnya terbongkar, dengan berat hati korban mendatangi rumah pelaku. Saat tiba, kembali korban diseret ke dalam kamar dan disetubuhi secara paksa. Ketika berhubungan itulah, ada teman pelaku yang diminta untuk merekam dengan video.

Setelah kejadian, korban kembali diminta pulang. Korban pun tidak berani menceritakan kepada siapapun. Baru setelah hampir setahun tidak komunikasi dengan pelaku, korban terkejut dengan video yang direkam teman pelaku beredar di masyarakat. Karena tidak terima itulah, akhirnya korban diantarkan orangtuanya melapor ke polisi. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar