Hukum & Kriminal

Ratusan Pesilat PSHT Demo di PN Jember, Sanggah Disebut Menyerang Duluan

Jember (beritajatim.com) – Ratusan orang massa perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate berunjuk rasa, di depan gedung Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur, Rabu (17/6/2020).

Mereka memberikan dukungan untuk M. Ramadan (22), warga Kecamatan Panti anggota PSHT, yang duduk menjadi terdakwa kasus penganiayaan terhadap salah satu anggota perguruan silat Pagar Nusa. Aksi unjuk rasa berlangsung tertib.

“Kedatangan dulur-dulur ke pengadilan untuk mendukung saudara kami yang jadi terdakwa. Kedua, saksi korban mengatakan bahwa PSHT yang memulai dulu. PSHT tidak terima. PSHT melakukan itu karena diserang duluan. (Aksi massa) ini bukti persaudaraan PSHT sendiri,” kata Humas PSHT Jember Mambaul Maarif. Ia menyebut aksi massa tersebut spontan.

Menurut Mambaul, saat kejadian, PSHT melakukan latihan bersama dan Pagar Nusa sedang melaksanakan ujian kenaikan tingkat. Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dalam satu jalur. Akhirnya terjadilah perselisihan.

Sebanyak 300 polisi dikerahkan untuk mengamankan aksi. “Massa sekitar 500 orang. Polisi siap mengamankan segala kegiatan masyarakat,” kata Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Jember Komisaris Agus Suparyono.

Sementara itu, pengacara terdakwa Naniek Sudiarti mengatakan, pihak PSHT disakiti terlebih dulu. “Waktu habis latihan dihadang Pagar Nusa. Pasukan Pagar Nusa banyak sekali. Dari PSHT cuma 10 orang,” katanya usai sidang.

Kelompok PSHT, menurut Naniek, dilempari batu. Mereka sempat menanyakan alasan pelemparan. Namun pelemparan tetap terjadi. “(Rombongan PSHT) yang di depan bisa lolos,” katanya. Namun beberapa anggota PSHT terpaksa lari meninggalkan sepeda motor masing-masing. Sepeda motor itu kemudian dirusak.

Ramadan datang untuk mengamankan. “Kemudian Eko (Eko Suwito, pesilat Pagar Nusa yang jadi korban pemukulan, red) yang luka parah itu memukul dulu kepada terdakwa. Oleh terdakwa ditangkis, dan korban dipukul dengan tangan mengepal kena pipinya. Satu kali. Tak sampai tersungkur,” katanya.

Menurut Niniek, PSHT sudah menyerahkan sejumlah dana untuk berobat kepada Eko. “Pengurus Pagar Nusa dan PSHT sudah ada perdamaian,” katanya.

Mambaul membenarkan bahwa PSHT dan Pagar Nusa tidak ada masalah. “Ke depannya, kita berdamai dengan semua perguruan,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, Seorang pesilat dari perguruan Pagar Nusa, Eko Suwito (35), dikeroyok gerombolan orang tak dikenal, di perbatasan Kecamatan Panti dan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (1/2/2020) malam. Ia sempat tak sadarkan diri dan dirawat intensif di RS Daerah dr. Soebandi.

Fitriyatul Rizkiyah, adik sepupu Eko, mengatakan, malam itu sebenarnya ada di dalam rumah. Namun ia mendengar ada ramai-ramai, sehingga keluar rumah. Kebetulan saat itu ada acara kenaikan tingkat perguruan silat. Belum jelas apa penyebab keributan. Namun, menurut Fitriyatul, Eko dikeroyok dan dianiaya. “Waktu itu ada teman Mas Eko sekitar 30 orang. Lalu didatangi massa, katanya lebih dari 200 orang,” katanya.

Keluarga Eko tidak tahu jika terjadi pengeroyokan. “Tahunya tadi pagi ada yang bilang Mas Eko masuk Rumah Sakit dr. Soebandi,” kat Fitriyatul.

Eko adalah anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Karnoto dan Misna. “Kami serahkan persoalan ini kepada hukum saja,” kata Fitriyatul. Akibat penganiayaan itu, Eko mengalami gegar otak ringan. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar