Hukum & Kriminal

Ratusan Anggota PSHT Datangi Pengadilan Negeri Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan anggota Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) mengepung Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (25/2/2020). Kedatangan mereka ke institusi yang ada di jalan Arjuna ini guna memberikan dukungan pada salah satu anggota mereka yang saat ini menjalani sidang dalam perkara penganiayaan.

Adalah Zulham Bagus Prasetyo, anggota kelompok silat PSHT yang didudukan di kursi pesakitan lantaran melakukan penganiayaan terhadap Muhamad Zainal Arifin anggota kelompok silat Pagar Nusa.

Kasat Sabhara Polrestabes Surabaya AKBP Herman Priyanto tampak menghimbau agar kelompok PSHT ini tetap menjaga ketertiban. Dan nantinya akan ada perwakilan dari anggota yang akan mengikuti jalannya persidangan.

“Terimakasih untuk dulur-dulur PSHT yang sudah tertib, sudah menggunakan satu jalur. Pimpinan kami mengucapkan terimakasih pada dulur-dulur semua karena sudah tertib,” ujar AKBP Herman.

Sementara salah satu anggota PSHT yakni Ribut asal Sidoarjo menyatakan, dirinya dan teman-temannya datang ke PN Surabaya dengan tujuan untuk memberikan suport pasa temannya yang sedang menjalani sidang.

” Kita berikan dukungan pada saudara kita yang hari ini sedang menjalani sidang,” ujarnya.

Perlu diketahui, penganiayaan itu terjadi pada Minggu tanggal 27 Oktober 2019 lalu, korban bernama Muhamad Zainal Arifin, anggota kelompok Silat Pagar Nusa yang hendak pulang ke Lamongan pakai motor dihadang sekelompok orang yang diduga dari kelompok silat PSHT di depan Rumah Sakit Muji Rahayu Jalan Manukan Wetan, Surabaya.

Tiba-tiba korban diserang, dan dipukul dengan helm dan senjata tajam (sajam), saat menangkis sabetan yang dilayangkan oleh salah satu orang yang menyerangnya, jari tangan bagian jempol Muhamad Zainal Arifin terluka.

Diduga kuat, aksi penganiayaan yang terjadi di dekat rumah sakit tersebut dipicu pesan suara hoax dari salah satu anggota group whatsapp “punkSHter_Suroboyo22” yang merupakan group kelompok silat PSHT.

Pasca kejadian Polrestabes Surabaya menetapkan Zulham Bagus Prasetyo, Alrama Yuda Pratama (berkas terpisah) dan Feri (DPO) sebagai tersangka dan didakwa pasal 170 ayat 2 ke-1 KUHPidana yang berbunyi Barang siapa dengan terang-terangan dan secara bersama-sama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. [uci/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar