Hukum & Kriminal

Ratu Tipu Kembali Ditangkap Polisi, Kali Ini Korban Merugi Rp 40 Miliar

Surabaya (beritajatim.com) – LY, seorang wanita kelahiran 48 tahun silam kembali berurusan dengan polisi. Ini bukan kali pertama bagi LY mendekam di jeruji besi. Tahun 2005, 2006 dan 2011, tersangka juga pernah jadi pesakitan dengan kasus yang sama, yakni penipuan. Maka tak heran, jika dia mendapat gelar ratu tipu.

Kali ini, LY melakukan penipuan dengan modus menawarkan investasi pembebasan lahan yang ada di daerah Osowilangun Surabaya. Dia menjanjikan keuntungan kepada korban. Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim pun berhasil menangkapnya.

“Korban menderita kerugian sebanyak Rp 48 miliar dan modus bersangkutan juga memberikan cek kepada korban, tapi setelah dicek ke bank ternyata sudah tidak bisa dicairkan,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Kamis (6/5/2021).

Barang bukti yang berhasil diamankan adalah 7 lembar cek Bank BCA beserta 7 lembar surat keterangan penolakan dari Bank BCA Cabang Pembantu Kusuma Bangsa Surabaya. Kemudian 2 mobil merek Toyota Fortuner VRZ tahun 2020, 4 unit mobil jenis Mercedes benz, 3unit mobil pikap, 6 buah jam tangan berbagai merk mulai dari Rolex, Franck Muller, 3 tiga buah cincin Natural Blue Saphire, dan uang tunai sebesar Rp100 juta.

Wadirkrimum Polda Jatim AKBP Nasrun Pasaribu menjelaskan bahwa LY telah 3 kali menjalani hukuman dengan kasus yang sama. Masing-masing pada tahun 2005, 2006 dan 2011. Perkara tersebut ditangani atau diproses oleh Polrestabes Surabaya.

Tersangka memiliki keahlian bisa mendekati seseorang bisa meyakinkan, korban akhirnya tidak sadar, dalam waktu 6 bulan secara bertahap tersangka memberikan uang sebanyak Rp 48 miliar kepada tersangka.

“Dari barangbukti di sini kita kenakan pencucian uang, sehingga kita kenakan TPPU. Tujuannya, kita dapat mengembalikan aset si pelapor. Dengan demikian, tidak hilang aset untuk bisa kita kembalikan kepada pelapor,” ungkapnya.

Nasrun juga mengatakan bahwa tersangka menawarkan investasi tanah kepada korban, namun tanah tersebut ternyata fiktif. “Investasi bahwa itu sangat menjanjikan dan tanah tersebut mejadikan (korban) tergiur. Tapi setelah kita cek ternyata bukan punya dia, tapi punya orang lain yang sedang dalam perkara,” tutur Nasrun.

Tersangka dijerat pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP tentang penipuan dan atau penggelapan dengan ancaman pidana penjara 4 tahun serta Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 UU RI No. 8 Tahun 2010 tentang tindak pencucian uang dengan ancaman pidana penjara 20 tahun. [uci/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar