Hukum & Kriminal

Predator Anak Via Grup WA, Polisi: Belum Ada Laporan

foto/ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Menyikapi pemberitaan adanya pergerakan predator seksual menyasar ke grup WhatsApp menyasar anak-anak membuat waspada sejumlah pihak.

Kepolisian menyebutkan bahwa peran utama menjaga anak dari predator ini berada di tangan orangtua atau orang terdekat. Terlebih dengan mulainya ter-enskripsi atau kerahasiaan pengguna aplikasi.

Bahkan meski marak dan pergerakannya masif, hingga saat ini belum ada orangtua korban yang melaporkan aksi kejahatan seksual ini. Iptu Fauzi Pratama, Katin Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya menyebutkan, kejahatan anak memang banyak. Bahkan jumlahnya lebih dari 10 kejadian setiap tahunnya.

“Tapi yang relevan terhadap laporan kejahatan predator seksual anak melalui pesan grup atau personal WA tidak ada. Meski demikian unit PPA bersama Unit Binmas akan meningkatkan sosialisasi bahayanya kasus ini,” jelasnya kepada beritajarim.com, Kamis (24/9/2020).

Menanggapi isu adanya grup WA di kalangan anak-anak yang secara aktif menjadi sarana penyebaran unsur pornografi. Bahkan mentransmisikan konten-konten yang mengandung unsur-unsur pornografi.

Sudah tentunya kepolisian akan melihat dan menganalisis peristiwa ini sebagai suatu potensi gangguan. Bahkan cenderung meningkat dan menjadi ancaman gangguan kamtibmas.

“Nantinya bilamana penyebaran tersebut sudah dilakukan secara massif apalagi target audience nya berjumlah sangat banyak polisi akan bertindak sesuai dengan laporan. Karena dikhawatirkan efek psikologis dan dampak kedepannya dapat mengubah perilaku anak menjadi menyimpang,” papar lulusan Akpol 2015 ini.

Oleh karena itu, menurut kepolisian langkah yang paling tepat adalah dengan melalui pendekatan pre-emtif dan preventif sesuai fungsi kepolisian yang diemban oleh Unit Binmas. Unit ini nantinya, Lanjut Iptu Fauzi akan mengadakan penyuluhan dan edukasi kepada para orang tua. Tak hanya itu target juga anak-anak terkait dengan bahaya-bahaya dan pengaruh buruk konten pornografi.

Ditambah lagi, grup-grup WA ini juga tidak dapat dipantau secara cyber patrol karena sifat daripada aplikasi whatsapp yang bersifat private. Serta tidak terbuka bebas sebagaimana aplikasi medsos lainnya, sebagai contoh facebook dan instagram.

“Kemudian, saya sebagai Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, sebagai seorang yang diberikan amanah untuk menjalankan fungsi represif (penindakan) menyatakan bahwasanya kami akan berupaya secara maksimal dalam menegakan hukum sebagai mana mestinya,” ujarnya.

“Namun, kami juga perlu peran serta aktif masyarakat dan juga terutama para orang tua untuk melaporkan kepada kepolisian. Terlebih bilamana menemukan peristiwa-peristiwa tersebut karena tanpa bantuan masyarakat, maka akan cukup sulit untuk mengungkap peristiwa tersebut,” tegasnya.

Sementara dengan adanya laporan kepolisian, maka penegak hukum akan bisa menindak,  walaupun terlapor atau terduga pelaku itu adalah anak-anak sekalipun.

“Dengan demikian, meningkatkan pengawasan dan kontrol ketat dari orang tua, serta edukasi yang baik kepada anak-anak itu penting. Maka jaga generasi bangsa dan anak kita dengan perhatian dan pengawasan yang bijak,” pungkas Iptu Fauzi.(man/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk