Hukum & Kriminal

Potensi Tularkan Covid-19 dari Hasil Rapid Tes Palsu, 3 Terdakwa Dituntut Berbeda

Surabaya (beritajatim.com) – Moch.Roib, Budi Santoso dan Syaiful Hidayat menjalani sidang lanjutan dengan agenda tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Willy Pramana di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (20/4/2021).

Dalam tuntutannya, JPU Willy menyatakan bahwa ketiga terdakwa terbukti melakukan perbuatan sebagaimana tertuang dalam pasal 263 KUHP. Sehingga sudah sepatutnya untuk dijatuhi hukuman penjara.

Selain itu, JPU Willy juga menyatakan bahwa akibat perbuatan para Terdakwa ini bisa mengganggu stabilitas negara serta membahayakan orang lain karena bisa berpotensi tertular Covid-19.

“Bahwa Terdakwa Moch.Roib terbukti melanggar pasal 263 (1) KUHP dan 263 (2), Terdakwa Budi Santoso terbukti pasal 263 (1) dan Syaiful Hidayat terbukti pasal 263 ayat 2,” ujar JPU Willy dalam tuntutannya.

Untuk itu, ketiga Terdakwa dituntut dengan pidana penjara 1,5 tahun untuk Terdakwa Moch.Roib dan Budi Santoso sementara Syaiful Hidayat sedikit lebih ringan tuntutannya yakni 1 tahun. Peran Syaiful yang hanya sebagai pihak yang menggunakan rapid tes membuat dia dituntut lebih ringan.

Atas tuntutan ini, Terdakwa melalui kuasa hukumnya yakni Ahmad Efendi Kasim menyatakan akan melakukan pledoi secara tertulis dalam sidang minggu depan.

Usai sidang, Ahmas Effendi menyatakan bahwa Tuntutan yang diajukan JPU ke kliennya yakni Budi Santoso kurang tepat sebab kliennya tidak mengetahui kalau rapid tes tersebut palsu. Dan dia juga bukanlah orang yang menandatangani atau melingkari hasil tes tersebut positif atau negatif.

Perlu diketahui, dalam dakwaan JPU, ketiga terdakwa Roib, Budi dan Syaiful telah melakukan tindak pidana, dengan sengaja memakai surat palsu atau dipalsukan seolah-olah asli, menimbulkan kerugian. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 263 ayat (2) KUHP.

Diketahui, terdakwa Moch.Roib, pada tanggal 22 November 2020, bertempat di Kantor Travel jalan Kalimas Baru 190 Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Berawal tanggal 20 November 2020, terdakwa Moch Roib bertemu dengan terdakwa Budi Santoso yang merupakan perawat honorer di Puskesmas Perak Timur di jalan Jakarta no.9 Surabaya. Terdakwa Roib sedang mengantar penumpang kapal yang membeli tiket pada terdakwa untuk melakukan Rapid test antibodi.

Terdakwa Budi Santoso mengatakan bisa mengurus surat Rapid test dengan keterangan Non Reaktif tanpa tes dengan harga 85 ribu per surat.

Pada tanggal 22 November terdakwa Roib memesan empat surat keterangan tanpa melalui Rapid test. Yang seolah olah ditandatangani oleh dr.Nurul Hidayah Saleh, dengan mengirim lewat WA KTP empat calon penumpang yang memesan yaitu Akno, Samir Dawat, Rifdatul Basariah dan Tina Nurdin kepada terdakwa Budi Santoso.

Setelah empat surat Rapid selesai dibuat oleh terdakwa Budi Santoso, terdakwa Roib mengambilnya dengan keterangan surat non reaktif, dan dipergunakan sebagai syarat keberangkatan melalui kapal laut.

Setelah mendapatkan empat surat Rapid palsu, terdakwa Roib mencoba untuk membuat sendiri dengan alat print scan, dan memalsu seolah-olah tanda tangan dr.Nurul Hidayah Saleh.

Selanjutnya terdakwa Syaiful Hidayat memesan kepada terdakwa Roib 6 surat Rapid non reaktif, atas nama KTP, Naomi,Nobertus,Charlos,Lionel ,Marlin ,dan Yhanna Diana. Setelah dibuatkan, terdakwa Roib memberikan surat Rapid tersebut ke terdakwa Syaiful Hidayat. [uci/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar