Hukum & Kriminal

Polsek Sawahan Surabaya Bongkar Pemalsuan Ijazah dan Surat Penting

Pelaku pemalsuan dokumen kenegaraan saat digelar perkara di Mapolsek Sawahan, Surabaya, Rabu (11/12/2019).(manik priyo prabowo)

Surabaya, (beritajatim.com) – Pemalsuan KTP Elektronik, Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Ijazah di Kota Surabaya berhasil dibongkar petugas Satreskrim Polsek Sawahan.

Dalam gelar perkara pada Rabu (11/12/2019), Berry Prima Pranata (28), Pengangguran yang berpendidikan Sarjana Akutansi ini tinggal di Jalan Dapuan Baru III No. 28 Surabaya. Sigit Dwi Saputro (43), Swasta, Pendidikan STM, Alamat Jalan Kebalen Barat No. 5 Surabaya. Dua pemalsu dokumen negara, ditangkap polisi, mereka ditangkap karena memalsukan SIM, KTP, hingga ijazah. Kapolsek Sawahan Kompol Argya Satrya Bhawana mengatakan pemalsuan dokumen yang dilakukan kedua tersangka dilakukan sejak sekitar tiga minggu lalu.

“Keterangan pelaku, yang dilakukan sudah berjalan sekitar 3 minggu. Dilakukan Berry dan dibantu oleh Sigit,” kata Argya kepada wartawan, Rabu (11/12/2019).

Ia menuturkan pemalsuan dokumen tersebut terungkap berkat adanya informasi yang beredar di masyarakat tentang seseorang yang mampu mencetak sejumlah dokumen. Dari informasi itu, pihaknya kemudian melakukan penyamaran untuk memesan KTP.

“Terbongkarnya karena dari anggota kami menyamar dan memesan. Karena ada informasi ada orang bisa mencetak dengan mudah SIM dan KTP,” terangnya.

Dari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti, yakni seperangkat komputer dan sejumlah dokumen negara, seperti 12 KTP, tujuh SIM, dan lima lembar ijazah SMAN 5 dan semuanya palsu.

“Kami juga menyita 44 potongan mika ukuran KTP dan SIM dan 4 lembar kertas hologram,” jelas Argya.

Sedangkan untuk percetakannya, lanjut Argya, selain di rumah sendiri, biasanya mereka mencetak di warnet. “Dia mencetak di warnet, yang sebenarnya mengetahui tapi tidak melaporkan,” terangnya.

Menurut Argya, kedua pelaku menjadi pemalsu dokumen atas dasar kebutuhan ekonomi. Terlebih kedua pelaku meruoakan pengangguran.

“Jadi dalam hal ini mereka melakukan atas dasar kebutuhan ekonomi, kemudian dia mencetak dokumen,” pungkasnya.

Sementara itu, dari hasil penyelidikan, para pelaku menjual KTP palsu seharga Rp 150 ribu, SIM palsu seharga Rp 150 ribu dan Ijazah seharga Rp 1 juta. (man/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar