Hukum & Kriminal

Polsek Sambit Tangkap 4 Pelaku Ilegal Logging

Barang bukti kayu sono curian yang disita dari salah satu rumah pelaku. (Foto/Polsek Sambit)

Ponorogo (beritajatim.com) – Satreskrim Polsek Sambit berhasil mengamankan para pelaku ilegal loging. Terungkapnya kasus ilegal logging tersebut, berawal dari informasi dari masyarakat bahwa ada sekelompok orang yang sering mengambil kayu hutan jenis sono. Laporan itu dikuatkan dari laporan pihak Perhutani bahwa banyak ditemukan tunggak bekas pencurian.

“Atas informasi dan laporan itu, unit reskrim Polsek Sambit dan petugas Perhutani melakukan penyelidikan. Dan berhasil mengamankan empat pelaku yang masih saling berkaitan,” kata Kapolsek Sambit AKP Sutriatno, Kamis (2/7/2020).

Setelah melakukan pengintaian, petugas berhasil menangkap Edi Wardoyo (37), warga Desa Ngadisanan Kecamatan Sambit di rumahnya. Selain pelaku, polisi juga mengamankan satu unit mobil Xenia yang didalamnya berisi tiga kayu sono berbagai ukuran dan gergaji mesin yang digunakan pelaku untuk menebang.

Tidak hanya berhenti disitu, polisi melakukan pengembangan dan berhasil mengamanakan pelaku kedua yakni Sutiono (43), warga Desa Grogol Kecamatan Sawoo. Di rumah pelaku, polisi berhasil mengamankan mobil Avanza yang berisi dua kayu sono dan gergaji. “Kedua pelaku mengaku bahwa kayu hasihasil hutan dijual ke Samuri (59) warga Tumpakpelem Kecamatan Sawoo,” katanya.

Tak butuh waktu lama, petugas akhirnya berhasil menangkap Samuri di rumahnya. Petugas berhasil mendapatkan barang bukti kayu sono berbagai ukuran yang disimpan dibelakang rumahnya. Kemudian dari informasi pelaku ketiga, petugas mengamankan terlapor lain, yakni Kaseni (56), warga Desa Grogol Kecamatan Sawoo. Dari tangan pelaku ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti delapan gelondong kayu sono berbagai ukuran yang disimpan pelaku di dalam rumahnya.

Setelah dilakukan interogasi, para pelaku tidak dapat menunjukkan suray sahnya hasil hutan. Mereka mengaku sering mengambil kayu hutan di petak 136 RPH Sawoo. Atas perbuatan para pelaku, mereka dijerat dengan Undang-undang nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengerusakan hutan. “Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar